view sexy images at influenza!

Situs Cerita Sex Dewasa




Cerita Mesum
MobGold Banner 120x20

Cerita PerSelingkuhan
www.ceritakita.hexat.com

Akibat Ranjang Sempit
Mertuaku adalah seorang janda
dengan kulit yang putih, cantik,
lembut, dan berwajah keibu ibuan,
dia selalu mengenakan kebaya jika
keluar rumah. Dan mengenakan
daster panjang bila didalam rumah,
dan rambutnya dikonde keatas
sehingga menampakkan kulit
lehernya yang putih jenjang.
Sebenarnya semenjak aku masih
pacaran dengan anaknya, aku sudah
jatuh cinta padanya Aku sering
bercengkerama dengannya walaupun
aku tahu hari itu pacarku kuliah.
Diapun sangat baik padaku, dan aku
diperlakukan sama dengan anak
anaknya yang lain. Bahkan tidak
jarang bila aku kecapaian, dia
memijat punggungku.
Setelah aku kawin dengan anaknya
dan memboyong istriku kerumah
kontrakanku, mertuaku rajin
menengokku dan tidak jarang pula
menginap satu atau dua malam.
Karena rumahku hanya mempunyai
satu kamar tidur, maka jika
mertuaku menginap, kami terpaksa
tidur bertiga dalam satu ranjang.
Biasanya Ibu mertua tidur dekat
tembok, kemudian istri ditengah dan
aku dipinggir. Sambil tiduran kami
biasanya ngobrol sampai tengah
malam, dan tidak jarang pula ketika
ngobrol tanganku bergerilya ketubuh
istriku dari bawah selimut, dan istriku
selalu mendiamkannya.
Bahkan pernah suatu kali ketika
kuperkirakan mertuaku sudah tidur,
kami diam diam melakukan
persetubuhan dengan istriku
membelakangiku dengan posisi agak
miring, kami melakukankannya
dengan sangat hati hati dan suasana
tegang. Beberapa kali aku tepaksa
menghentikan kocokanku karena
takut membangunkan mertuaku. Tapi
akhirnya kami dapat mengakhirinya
dengan baik aku dan istriku
terpuaskan walaupun tanpa rintihan
dan desahan istriku.
Suatu malam meruaku kembali
menginap dirumahku, seperti biasa
jam 21.00 kami sudah dikamar tidur
bertiga, sambil menonton TV yang
kami taruh didepan tempat tidur.
Yang tidak biasa adalah istriku minta
ia diposisi pinggir, dengan alasan dia
masih mondar mandir kedapur.
Sehingga terpaksa aku menggeser ke
ditengah walaupun sebenarnya aku
risih, tetapi karena mungkin telalu
capai, aku segera tidur terlebih
dahulu.
Aku terjaga pukul 2.00 malam, layar
TV sudah mati. ditengah samar samar
lampu tidur kulihat istriku tidur
dengan pulasnya membelakangiku,
sedangkan disebelah kiri mertuaku
mendengkur halus membelakangiku
pula. Hatiku berdesir ketika kulihat
leher putih mulus mertuaku hanya
beberapa senti didepan bibirku,
makin lama tatapan mataku
mejelajahi tubuhnya, birahiku
merayap melihat wanita berumur
yang lembut tergolek tanpa daya
disebelahku..
Dengan berdebar debar kugeser
tubuhku kearahnya sehingga
lenganku menempel pada
punggungnya sedangkan telapak
tanganku menempel di bokong,
kudiamkan sejenak sambil
menunggu reaksinya. Tidak ada
reaksi, dengkur halusnya masih
teratur, keberanikan diriku bertindak
lebih jauh, kuelus bokong yang masih
tertutup daster, perlahan sekali,
kurasakan birahiku meningkat cepat.
Penisku mulai berdiri dan hati hati
kumiringkan tubuhku menghadap
mertuaku.
Kutarik daster dengan perlahan lahan
keatas sehingga pahanya yang putih
mulus dapat kusentuh langsung
dengan telapak tanganku. Tanganku
mengelus perlahan kulit yang mulus
dan licin, pahanya keatas lagi
pinggulnya, kemudian kembali
kepahanya lagi, kunikmati sentuhan
jariku inci demi inci, bahkan aku
sudah berani meremas bokongnya
yang sudah agak kendor dan masih
terbungkus CD.
Tiba tiba aku dikejutkan oleh gerakan
mengedut pada bokongnya sekali,
dan pada saat yang sama
dengkurnya berhenti.
Aku ketakutan, kutarik tanganku, dan
aku pura pura tidur, kulirik mertuaku
tidak merubah posisi tidurnya dan
kelihatannya dia masih tidur. Kulirik
istriku, dia masih membelakangiku,
Penisku sudah sangat tegang dan
nafsu birahiku sudah tinggi sekali,
dan itu mengurangi akal sehatku dan
pada saat yang sama meningkatkan
keberanianku.
Setelah satu menit berlalu situasi
kembali normal, kuangkat sarungku
sehingga burungku yang berdiri tegak
dan mengkilat menjadi bebas,
kurapatkan tubuh bagian bawahku
kebokong mertuaku sehingga ujung
penisku menempel pada pangkal
pahanya yang tertutup CD.
Kenikmatan mulai menjalar dalam
penisku, aku makin berani,
kuselipkan ujung penisku di jepitan
pangkal pahanya sambil kudorong
sedikit sedikit, sehingga kepala
penisku kini terjepit penuh dipangkal
pahanya, rasa penisku enak sekali,
apalagi ketika mertuaku mengeser
kakinya sedikit, entah disengaja
entah tidak.

www.ceritakita.hexat.com
Tanpa meninggalkan kewaspadaan
mengamati gerak gerik istri,
kurangkul tubuh mertuaku dan
kuselipkan tanganku untuk meremas
buah dadanya dari luar daster tanpa
BH. Cukup lama aku melakukan
remasan remasan lembut dan
menggesekan gesekkan penisku
dijepitan paha belakangnya. Aku
tidak tahu pasti apakah mertuaku
masih terlelap tidur atau tidak tapi
yang pasti kurasakan puting dibalik
dasternya terasa mengeras. Dan kini
kusadari bahwa dengkur halus dari
mertuaku sudah hilang.., kalau
begitu..pasti ibuku mertuaku sudah
terjaga..? Kenapa diam saja? kenapa
dia tidak memukul atau
menendangku, atau dia kasihan
kepadaku? atau dia menikmati..? Oh..
aku makin terangsang.
Tak puas dengan buah dadanya,
tanganku mulai pindah keperutnya
dan turun keselangkangannya, tetapi
posisinya yang menyebabkan tangan
kananku tak bisa menjangkau
daerah sensitifnya. Tiba tiba ia
bergerak, tangannya memegang
tanganku, kembali aku pura pura
tidur tanpa merrubah posisiku sambil
berdebar debar menanti reaksinya.
Dari sudut mataku kulihat dia
menoleh kepadaku, diangkatnya
tanganku dengan lembut dan
disingkirkannya dari tubuhnya, dan
ketika itupun dia sudah mengetahui
bahwa dasternya sudah tersingkap
sementara ujung penisku yang sudah
mengeras terjepit diantara pahanya.
Jantungku rasanya berhenti
menunggu reaksinya lebih jauh. Dia
melihatku sekali lagi, terlihat samar
samar tidak tampak kemarahan
dalam wajahnya, dan ini sangat
melegakanku .
Dan yang lebih mengejutkanku
adalah dia tidak menggeser
bokongnya menjauhi tubuhku, tidak
menyingkirkan penisku dari jepitan
pahanya dan apalagi membetulkan
dasternya. Dia kembali
memunggungiku meneruskan
tidurnya, aku makin yakin bahwa
sebelumnya mertuaku menikmati
remasanku di payudaranya, hal ini
menyebabkan aku berani untuk
mengulang perbuatanku untuk
memeluk dan meremas buah
dadanya. Tidak ada penolakan ketika
tanganku menyelusup dan memutar
mutar secara lembut langsung
keputing teteknya melalui kancing
depan dasternya yang telah kulepas.
Walaupun mertuaku berpura pura
tidur dan bersikap pasif, tapi aku
dengar nafasnya sudah memburu.
Cukup lama kumainkan susunya
sambil kusodokkan kemaluanku
diantara jepitan pahanya pelan pelan,
namun karena pahanya kering, aku
tidak mendapat kenikmatan yang
memadai, Kuangkat pelan pelan
pahanya dengan tanganku, agar aku
penisku terjepit dalam pahanya
dengan lebih sempurna, namun dia
justru membalikkan badannya
menjadi terlentang, sehingga
tangannya yang berada disebelah
tangannya hampir menyetuh penisku,
bersamaan dengan itu tangan kirinya
mencari selimutnya menutupi
tubuhnya. Kutengok istri yang berada
dibelakangku, dia terlihat masih
nyenyak tidurnya dan tidak
menyadari bahwa sesuatu sedang
terjadi diranjangnya.
Kusingkap dasternya yang berada
dibawah selimut, dan tanganku
merayap kebawah CDnya. Dan
kurasakan vaginanya yang hangat
dan berbulu halus itu sudah basah.
Jari tanganku mulai mengelus,
mengocok dan meremas kemaluan
mertuaku. Nafasnya makin memburu
sementara dia terlihat berusaha
untuk menahan gerakan pinggulnya,
yang kadang kadang terangkat,
kadang mengeser kekiri kanan
sedikit. Kunikmati wajahnya yang
tegang sambil sekali kali menggigit
bibirnya. Hampir saja aku tak bisa
menahan nafsu untuk mencium
bibirnya, tapi aku segera sadar
bahwa itu akan menimbulkan
gerakan yang dapat membangunkan
istriku.
Setelah beberapa saat tangan
kanannya masih pasif, maka
kubimbing tangannya untuk
mengelus elus penisku, walaupun
agak alot akhirnya dia mau mengelus
penisku, meremas bahkan
mengocoknya. Agak lama kami
saling meremas, mengelus,
mengocok dan makin lama cepat,
sampai kurasakan dia sudah
mendekati puncaknya, mertuakan
membuka matanya, dipandanginya
wajahku erat erat, kerut dahinya
menegang dan beberapa detik
kemudian dia menghentakkan
kepalanya menengadah kebelakang.
Tangan kirinya mencengkeram dan
menekan tanganku yang sedang
mengocok lobang kemaluannya.
Kurasakan semprotan cairan di
pangkal telapak tanganku. Mertuaku
mencapai puncak kenikmatan, dia
telah orgasme. Dan pada waktu
hampir yang bersamaan air maniku
menyemprot kepahanya dan
membasahi telapak tangannya.
Kenikmatan yang luar biasa
kudapatkan malam ini, kejadianya
begitu saja terjadi tanpa rencana
bahkan sebelumnya
membayangkanpun aku tidak berani.
Sejak kejadian itu, sudah sebulan
lebih mertuaku tidak pernah
menginap dirumahku, walaupun
komunikasi dengan istriku masih
lancar melalui telpon. Istriku tidak
curiga apa apa tetapi aku sendiri
merasa rindu, aku terobsesi untuk
melakukannya lebih jauh lagi. Kucoba
beberapa kali kutelepon, tetapi selalu
tidak mau menerima. Akhirnya
setelah kupertimbangkan maka
kuputuskan aku harus menemuinya.

Hari itu aku sengaja masuk kantor
separo hari, dan aku berniat
menemuinya dirumahnya, sesampai
dirumahnya kulihat tokonya sepi
pengunjung, hanya dua orang
penjaga tokonya terlihar asik sedang
ngobrol. Tokonya terletak beberapa
meter dari rumah induk yang cukup
besar dan luas. Aku langsung masuk
kerumah mertuaku setelah basa basi
dengan penjaga tokonya yang
kukenal dengan baik. Aku disambut
dengan ramah oleh mertuaku, seolah
olah tidak pernah terjadi sesuatu apa
apa, antara kami berdua, padahal
sikapku sangat kikuk dan salah
tingkah.
“Tumben tumbenan mampir kesini
pada jam kantor?”
“Ya Bu, soalnya Ibu nggak pernah
kesana lagi sih”
Mertuaku hanya tertawa
mendengarkan jawabanku
“Ton. Ibu takut ah.. wong kamu kalau
tidur tangannya kemana mana..,
Untung istrimu nggak lihat, kalau dia
lihat.. wah.. bisa berabe semua
nantinya..”
“Kalau nggak ada Sri gimana Bu..?”
tanyaku lebih berani.
“Ah kamu ada ada saja, Memangnya
Sri masih kurang ngasinya, koq masih
minta nambah sama ibunya.”
“Soalnya ibunya sama cantiknya
dengan anaknya” gombalku.
“Sudahlah, kamu makan saja dulu
nanti kalau mau istirahat, kamar
depan bisa dipakai, kebetulan tadi
masak pepes” selesai berkata ibuku
masuk ke kamarnya.
Aku bimbang, makan dulu atau
menyusul mertua kekamar. Ternyata
nafsuku mengalahkan rasa lapar, aku
langsung menyusul masuk kekamar,
tetapi bukan dikamar depan seperti
perintahnya melainkan kekamar tidur
mertuaku. Pelan pelan kubuka pintu
kamarnya yang tidak terkunci, kulihat
dia baru saja merebahkan badannya
dikasur, dan matanya menatapku,
tidak mengundangku tapi juga tidak
ada penolakan dari tatapannya. Aku
segera naik keranjang dan perlahan
lahan kupeluk tubuhnya yang
gemulai, dan kutempelkan bibirku
penuh kelembutan. Mertuaku
menatapku sejenak sebelum
akhirnya memejamkan matanya
menikmati ciuman lembutku. Kami
berciuman cukup lama, dan saling
meraba dan dalam sekejap kami
sudah tidak berpakaian, dan nafas
kami saling memburu. Sejauh ini
mertuaku hanya mengelus punggung
dan kepalaku saja, sementara
tanganku sudah mengelus paha
bagian dalam. Ketika jariku mulai
menyentuh vaginanya yang tipis dan
berbulu halus, dia sengaja membuka
pahanya lebar lebar, hanya sebentar
jariku meraba kemaluanya yang
sudah sangat basah itu, segera
kulepas ciumanku dan kuarahkan
mulutku ke vagina merona basah itu.
Pada awalnya dia menolak dan
menutup pahanya erat erat.
“Emoh.. Ah nganggo tangan wae,
saru ah.. risih..” namun aku tak
menghiraukan kata katanya dan aku
setengah memaksa, akhirnya dia
mengalah dan membiarkan aku
menikmati sajian yang sangat
mempesona itu, kadang kadang
kujilati klitorisnya, kadang kusedot
sedot, bahkan kujepit itil mertuaku
dengan bibirku lalu kutarik tarik
keluar.
“Terus nak Ton.., Enak banget.. oh..
Ibu wis suwe ora ngrasakke penak
koyo ngene sstt”
Mertuaku sudah merintih rintih
dengan suara halus, sementara
sambil membuka lebar pahanya,
pinggulnya sering diangkat dan
diputar putar halus. Tangan kiriku
yang meremas remas buah dadanya,
kini jariku sudah masuk kedalam
mulutnya untuk disedot sedot.
Ketika kulihat mertuaku sudah
mendekati klimax, maka kuhentikan
jilatanku dimemeknya, kusodorkan
kontolku kemulutnya, tapi dia
membuang muka kekiri dan
kekanan, mati matian tidak mau
mengisap penisku. Dan akupun tidak
mau memaksakan kehendak,
kembali kucium bibirnya, kutindih
tubuhnya dan kudekap erat erat,
kubuka leber lebar pahanya dan
kuarahkan ujung penisku yang
mengkilat dibibr vaginanya.
Mertuaku sudah tanpa daya dalam
pelukanku, kumainkan penisku dibibir
kemaluannya yang sudah basah,
kumasukkan kepala penis, kukocok
kocok sedikt, kemudian kutarik lagi
beberapa kali kulakukan.
“Enak Bu?”
“He eh, dikocok koyo ngono
tempikku keri, wis cukup Ton,
manukmu blesekno sin jero..”
“Sekedap malih Bu, taksih eco
ngaten, keri sekedik sekedik”
“Wis wis, aku wis ora tahan meneh,
blesekno sih jero meneh Ton oohh..
ssttss.. Ibu wis ora tahan meneh,
aduh enak banget tempikku” sambil
berkata begitu diangkatnya tinggi
tinggi bokongnya, bersamaan dengan
itu kumasukkan kontolku makin
kedalam memeknya sampai
kepangkalnya, kutekan kontolku
dalam dalam, sementara Ibu
mertuaku berusaha memutar mutar
pinggulnya, kukocokkan penisku
dengan irama yang tetap, sementara
tubuhnya rapat kudekap, bibirku
menempel dipipinya, kadang kujilat
lehernya, ekspresi wajahnya berganti
ganti. Rupanya Ibu anak sama saja,
jika sedang menikmati sex mulutnya
tidak bisa diam, dari kata jorok
sampai rintihan bahkan mendekati
tangisan.
Ketika rintihannya mulai mengeras
dan wajahnya sudah diangkat keatas
aku segera tahu bahwa mertua akan
segera orgasme, kukocok kontolku
makin cepat.
“Ton..aduh aduh.. Tempikku senut
senut, ssttss.. Heeh kontolmu gede,
enak banget.. Ton aku meh metu..
oohh.. Aku wis metu..oohh.”
Mertuaku menjerit cukup keras dan
bersamaan dengan itu aku
merasakan semprotan cairan dalam
vaginanya. Tubuhnya lemas dalam
dekapanku, kubiarkan beberapa
menit untuk menikmati sisa sisa
orgasmenya sementara aku sendiri
dalam posisi nanggung.
Kucabut penisku yang basah kuyup
oleh lendirnya memekknya, dan
kusodorkan ke mulutnya, tapi dia
tetap menolak namun dia
menggegam penisku untuk dikocok
didepan wajahnya. Ketika
kocokkannya makin cepat, aku tidak
tahan lagi dan muncratlah lahar
maniku kewajahnya.
Siang itu aku sangat puas demikian
juga mertuaku, bahkan sebelum
pulang aku sempat melakukannya
lagi, ronde kedua ini mertuaku bisa
mengimbangi permainanku, dan kami
bermain cukup lama dan kami bisa
sampai mencapai orgasme pada saat
yang sama.
End

1 | 1 | 22719
BACK




Home
Cerita-XXX
Cerita Stim
Cerita Erotis
Sumber Cerita
Thai Stories


© 2009 - 2014 CeritaKita-X
Cerita mesum dan Artikel seks