view sexy images at influenza!

Situs Cerita Sex Dewasa




Cerita Dewasa Panas
www.ceritakita.hexat.com

Mbah Sukro

Mbah Sukro adalah dukun sakti yang
tinggal di desa pedalaman di lereng
gunung di pulau Jawa. Usianya diatas
60 tahun. Badannya kurus, namun
masih sehat. Ia adalah dukun sakti
yang menguasai dunia perdukunan
sehingga tidak ada yang berani
melawannya. Ia termasuk dukun
yang kaya raya karena ia tak segan-
segan mematok harga tinggi bagi
para kliennya. Uang bukanlah
pantangan baginya. Yang menjadi
pantangan saat ia belajar ilmu
saktinya adalah ia sama sekali tidak
boleh berhubungan intim dengan
wanita. Apabila melanggarnya, maka
kesaktiannya akan hilang seharian
sampai matahari terbenam hari
berikutnya. Oleh karena banyak
dukun-dukun saingannya yang iri
akan kesaktiannya, tentu adalah hal
yang riskan apabila kesaktiannya
hilang walau hanya sehari. Apabila
saat itu ada dukun iseng yang
menyantetnya, ia sama sekali tidak
ada pertahanan diri. Untuk
menghindari hal itu, telah bertahun-
tahun ia tidak pernah berhubungan
intim dengan wanita termasuk kedua
istrinya. Dengan demikian ia akan
selalu menjadi orang sakti yang tak
terkalahkan.
Salah satu klien utama Mbak Sukro
adalah Pak Wijaya, seorang
pengusaha yang belakangan ini
namanya semakin membumbung
tinggi. Sejak ditangani oleh Mbah
Sukro, hampir seluruh bisnisnya selalu
lancar.
Namun pada suatu ketika, dua kali
berturut-turut ia kalah tender. Oleh
karena itu ia pergi ke desa Mbah
Sukro untuk berkonsultasi
dengannya. Berdasarkan ‘penglihatan’
Mbah Sukro, ternyata ia dijegal oleh
salah satu pesaingnya yang
menggunakan jasa dukun sakti dari
luar pulau. Dan pengaruh negatif dari
dukun tersebut rupanya telah
memasuki dalam rumah Pak Wijaya,
sehingga hal itu mempengaruhi
performance dirinya maupun orang
lain yang tinggal secara tetap di
dalam rumah tersebut.
Untuk mengatasinya, menurut Mbah
Sukro, harus dipasang jimat menurut
delapan arah mata angin di dalam
area rumah Pak Wijaya. Jimat itu
harus dipasang sehari satu setiap jam
4 pagi dengan disembahyangi
sepanjang hari sampai matahari
terbenam.
Untuk keperluan itu, maka Pak
Wijaya mengajak Mbah Sukro untuk
datang dan menginap di rumahnya
selama 8 hari untuk memasang ke-
delapan jimat itu. Oleh karena tugas
ini cukup berat dan sangat menguras
tenaga, Pak Wijaya berjanji akan
memberi imbalan yang sangat besar
dan ia memberi uang muka sebesar
50% di depan.
Selain memasang jimat, Pak Wijaya
juga meminta Mbah Sukro untuk
membimbing putrinya, A-mei yang
masih SMU dan baru berusia 17
tahun. Karena belakangan ini ia
merasakan putrinya telah berani
melawannya apalagi tanpa
sepengetahuannya telah berpacaran
dengan teman sekelasnya. Bisa jadi
hal ini disebabkan pengaruh negatif
di dalam rumah itu, pikirnya.
Sehingga kini Mbah Sukro tinggal di
rumah Pak Wijaya selama delapan
malam. Pagi, siang, dan sore hari
digunakan untuk memasang dan
menyembahyangi jimat. Sementara
malamnya ia meluangkan waktu
beberapa jam untuk mengajar olah
pernapasan bagi A-mei untuk
menghilangkan pengaruh negatif dari
dalam dirinya. Dan hal itu dilakukan
berdua di dalam kamar A-mei. Pak
Wijaya membolehkan hal itu karena
ia tahu pasti akan pantangan Mbah
Sukro menyentuh wanita. Sehingga
keamanan diri putrinya akan tetap
terjamin.
Sementara itu, proses pemasangan
jimat itu berlangsung lancar sampai
hari terakhir. Sehingga kini
lengkaplah sudah seluruh persyaratan
jimat sebagai pelindung rumahnya
beserta seisinya yang bakal mampu
bertahan selama bertahun-tahun.
Petang itu sehabis matahari
terbenam…
Mbah Sukro mengatakan kepada Pak
Wijaya kalau seluruh jimatnya telah
terpasang dengan rapi. Sehingga ia
minta supaya sisa pembayarannya
dapat segera dilunasi. Namun
rupanya terdapat kesalahpahaman
diantara keduanya. Karena Pak
Wijaya berpendapat sisa
pembayarannya akan dilunasi dalam
waktu dua bulan yaitu setelah
pengumuman keputusan pemenang
tender proyek berikutnya. Hal itu
untuk membuktikan bahwa jimat
yang dipasang memang telah benar-
benar bekerja.
Sementara Mbah Sukro menganggap
bahwa sisa pembayaran harus
dilunasi begitu pemasangan jimat
telah selesai. Mendengar pendapat
Pak Wijaya, ia merasa ditipu oleh
kliennya itu. Padahal ia telah
mencurahkan seluruh energinya
untuk membuat jimat itu benar-benar
bekerja.
Oleh karena ia adalah orang desa
yang tidak biasanya beradu mulut
dan mungkin ditambah karena Pak
Wijaya adalah salah satu klien besar,
maka akhirnya dengan terpaksa ia
mengalah. Namun di dalam hati ia
merasa sakit hati. Dan diam-diam ia
berniat membalas dendam kepada
kliennya itu. Ia tidak mungkin
membatalkan jimat yang telah
dipasang oleh dirinya sendiri itu. Oleh
karena itu ia akan mengambil sisa
bayarannya itu dengan caranya
sendiri sekaligus membalas dendam,
dengan menggunakan A-mei,
puterinya. Tentu bukanlah hal sulit
baginya untuk membuat A-mei
takluk kepadanya.
Karena Mbah Sukro akhirnya setuju
dengan pendiriannya, maka Pak
Wijaya sama sekali tak menaruh
curiga kepadanya. Sehingga Mbah
Sukro bisa melakukan menurut apa
maunya dengan bebasnya.
Sementara bagi A-mei sendiri, yang
di hari pertama mula-mula merasa
aneh disuruh Papanya belajar
pernapasan, namun setelah
melakukannya ia merasakan
manfaat dari pernapasan yang
diajarkan oleh Mbah Sukro. Oleh
karena itu ia mau meneruskan setiap
hari sampai hari itu, hari kedelapan.
Malam itu ketika proses pengajaran
normal telah berakhir, mereka
berbincang-bincang,
“Ternyata pernapasan begini ada
manfaatnya juga ya Mbah. A-mei
sekarang jadi lebih tenang dibanding
sebelumnya.”
“Memang betul, Nik. Tapi sebenarnya
ada cara lain yang bisa membuat
pikiran jadi lebih nyaman lagi.”
“Gimana caranya Mbah?”
“Prinsipnya kamu harus
menghilangkan prasangka buruk di
dalam pikiranmu sampai kamu tidak
merasakan adanya ancaman bahaya
dari luar. Dengan begitu maka pikiran
otomatis akan menjadi tenang.”
“Wah susah sekali itu Mbah, gimana
caranya menghilangkan prasangka
buruk di dalam pikiran karena
datangnya tiba-tiba?”
“Ya harus latihan Nik. Namun
latihannya tidak mudah dan tidak
cocok untuk gadis muda seusia
kamu. Karena itu, lupakan sajalah.”
“Lho kok begitu, Mbah? Khan Mbah
sendiri yang bilang kalau pikiran yang
tenang dan nyaman itu bagus buat
semua orang nggak peduli usia.”
“Karena untuk latihan ini, kamu harus
menghilangkan semua prasangka
buruk. Dan hal itu tidak mungkin
karena saat ini pun tanpa disadari
kamu telah punya prasangka buruk
terhadap Mbah.”
“Ah, aku sama sekali nggak punya
pikiran buruk kok terhadap Mbah.”
“Ah, masa? Kalau begitu, coba
sekarang berani nggak kamu buka
seluruh baju kamu di depan Mbah.”
“Ah, Mbah yang benar aja!” protes A-
mei sambil matanya melirik ke arah
pintu keluar.
“Nah, itulah. Sekarang kamu punya
pikiran takut khan terhadap Mbah?
Sebenarnya kenapa sekarang kamu
memakai pakaian? Karena kamu
malu dilihat telanjang bulat oleh
Mbah. Padahal kalau pikiranmu tulus,
kamu tidak akan mempunyai pikiran
seperti itu.”
“Tapi kenapa harus sampai buka baju
segala, Mbah?”
“Karena itu adalah cara latihan yang
paling praktis dan efisien untuk
menghilangkan perasaan malu dan
waswas yang timbul. Tapi sudahlah,
lupakan saja. Makanya tadi Mbah
bilang kalau latihan ini tidak cocok
untuk anak gadis apalagi yang masih
muda seperti kamu.”
“Ooh, jadi begitu toh. Terus kalau A-
mei mau coba sedikit dan sebentar
aja, gimana Mbah?” tanya A-mei
penasaran.
“Ini bukan untuk coba-coba. Kalau
kamu pengin latihan, kamu harus
betul-betul manut (nurut) dengan
Mbah tanpa prasangka apa-apa.
Kalau tidak, mending tidak usah.”
Setelah beberapa saat terdiam,
akhirnya…
“OK deh, aku mau jalanin Mbah.
Asalkan Mbah betul-betul tidak punya
maksud jahat.”
“Tidak bisa seperti itu. Kamu harus
100% percaya sama Mbah dulu baru
bisa latihan.”
“Hmmm. OK, OK, aku percaya sama
Mbah. Dengan cara Mbah ngomong
seperti ini, aku percaya Mbah nggak
punya tujuan jahat. Apalagi khan,
hihihi, Mbah juga sudah tua,” katanya
sambil tersenyum geli sendiri.
(Dalam hati Mbah Sukro memaki,
sialan bocah ini. Rupanya ia
meragukan kemampuanku. Rasain
kau nanti, batinnya).
“Jadi kamu benar-benar mau latihan
dan ini adalah kemauanmu sendiri
ya?”
“Iya, Mbah. Aku mau coba latihan ini.
Beneran!”
“Baiklah, sekarang coba kamu
berlatih napas seperti biasa tanpa
perlu memejamkam mata,” kata
Mbah Sukro sambil berjalan
mengelilingi A-mei.
A-mei saat itu mengenakan baju
kaus biru tua dengan krah dan celana
pendek yang ukurannya sedikit
diatas paha. Ia adalah seorang gadis
yang cantik. Rambutnya panjangnya
sebahu. Ditambah lagi kulitnya yang
putih. Usianya masih belia, baru 17
tahun, namun tubuhnya telah tumbuh
menjadi tubuh seorang gadis
dewasa. Baju biru yang
dikenakannya itu nampak menonjol
di bagian dadanya. Pertanda
payudaranya telah tumbuh.
Seandainya bukan Mbah Sukro yang
punya pantangan, cowok mana pun
pasti akan tergiur kecantikan dan ke-
sexy-annya.
“Omong2, kamu sudah punya pacar,
Nik?”
“Sudah Mbah.”
“Kamu sudah pernah ngapain saja
dengan dia?”
“Maksud Mbah?”
“Maksudnya, sejauh mana hubungan
kamu dengan dia? Apakah kamu
pernah tidur dengan dia?”
“Idih, Mbah. Ya nggak dong. Kok
Mbah jadi nanya yang nggak-nggak
sih?”
“Mbah sengaja nanya hal-hal seperti
ini, untuk pemanasan latihan kamu.
Untuk itu sejak sekarang kamu
nggak boleh punya pikiran jelek,
mengerti?
“OK, Mbah. Aku mengerti.”
“Jadi, kamu pernah ngapain aja
dengan dia?”
“Cuman ciuman dan peluk-pelukan
aja Mbah. Sambil saling pegang-
pegang juga,” kata A-mei dan
mukanya bersemu kemerahan.
“Kalo pipimu kemerahan gitu, kamu
jadi makin cantik saja, Nik. Cuman
gitu aja? Jadi kamu masih perawan?”
“Iya Mbah.”
“Bagus, bagus. Lalu apakah dia
pernah ngeliat kamu nggak pake
baju?”
“Iiih, Mbah. Ya nggak dong”, katanya
sementara mukanya makin merah.
“Ingat, kamu harus membuang
pikiran kotor kamu.
“Baik, Mbah.”
“Bagus. Sekarang apakah kamu siap
untuk memasuki tahap latihan yang
lebih tinggi?”
“Siap Mbah.”
“Bagus. Kalo begitu sekarang ayo
coba kamu buka baju kaus kamu.”
Tanpa protes A-mei segera melepas
dua kancing baju kausnya sendiri.
Lalu dicopotnya baju yang
dikenakannya dan dibuang ke lantai.
Nampak kulit tubuh putih A-mei
dengan gundukan kecil di dada yang
tertutup oleh bra hijau muda.
“Wah, Nik, tubuhmu betul-betul putih
mulus,” kata Mbah Sukro sambil
matanya tak lepas memandangi A-
mei. Baru pertama kali ini ia melihat
tubuh gadis yang seputih ini. Apalagi
sudah lama sekali sejak terakhir kali
ia melihat tubuh perempuan yang telanjang
www.ceritakita.hexat.com
“Sekarang coba kamu lepas penutup
dada kamu. Mbah pengin lihat seperti
apa isinya.”
Dengan patuh A-mei membuka
branya sehingga kini ia berdiri di
hadapan Mbah Sukro dengan
dadanya telanjang. Nampak
payudaranya yang kecil tapi indah
dan putingnya berwarna kemerahan.
“Wow! Dadamu indah sekali. Kamu
sungguh beruntung.”
“Sekarang coba lepas rokmu, Nik,”
perintah Mbah Sukro yang dengan
patuh dipenuhi oleh A-mei.
Dilepasnya rok yang melekat di
tubuhnya sehingga kini ia hanya
memakai celana dalam saja.
“Waduuh, mulusnya tubuh kamu Nik.
Betul-betul pemandangan yang
indah,” kata Mbah Sukro kagum
sambil memandangi pahanya dan
payudaranya. Sehingga mau tak mau
A-mei jadi makin memerah
mukanya. Namun karena ia
memutuskan untuk latihan, maka ia
berusaha menahan perasaan
malunya.
“Bagaimana perasaan kamu
sekarang, Nik? Kamu malu telanjang
di depan Mbah?”
“Se-sebenarnya malu sekali Mbah.”
“Nah, itulah. Terbukti kalau kamu
masih perlu latihan lebih lanjut lagi.
Sebenarnya kamu nggak perlu malu.
Soalnya tubuh kamu indah sekali kok
Nik. Jadi sekarang berani nggak
kamu betul-betul telanjang bulat
disini?” kata Mbah Sukro.
A-mei nampak ragu.
“Masa perlu sampai semuanya,
Mbah?”
“Kalau kamu pengin latihannya
sempurna ya harus. Apalagi terbukti
sekarang kamu masih belum berhasil
menghilangkan perasaan malu.
Mumpung Mbah masih disini. Hari ini
adalah hari terakhir Mbah disini.
Besok kalau kamu pengin latihan
sudah tidak bisa lagi. Masa kamu
mau latihan seperti ini dengan
sembarang orang?”
“Hmmmh, OK, kalo gitu A-mei nurut
aja deh.”
Dan tak lama kemudian segera
dilepasnya cd yang dipakainya
dengan sukarela.
Kini ia betul-betul telanjang bulat
tanpa selembar benang pun di
hadapan Mbah Sukro.
Mbah Sukro nampak memandangi
tubuh telanjang A-mei dari atas ke
bawah.
“Wow. Ckckck. Suiit, suiiit. Hebat,
hebat. Benar-benar aduhai indahnya
tubuhmu, Nik.” Mbah Sukro jadi
ngaceng juga melihat A-mei yang
telanjang bulat. Hmm, sayang sekali
aku tak bisa menikmati tubuhmu,
batinnya. Namun tak apalah, yang
penting aku sudah memberi
pelajaran kepada Wijaya, papamu
yang penipu itu. Biar tahu rasa kau
sekarang, puterimu yang masih
perawan berhasil kutipu mentah-
mentah. Lumayan aku bisa cuci mata
ngeliat anak gadismu telanjang bulat.
Sungguh ini adalah pembalasan yang
setimpal.
Namun rupanya ia tidak ingin
berhenti sampai disitu saja. Dalam
hati ia berpikir, biarlah kupinjam dulu
anak gadismu untuk kumain-mainin
bentar, pikirnya.
“Cowok kamu pernah lihat susu
kamu?”
“Pernah mbah.”
“Tadi katanya belum pernah. Awas
kalo kamu bohong ya?”
“Bukan gitu Mbah. Maksudku tadi aku
belum pernah telanjang bulat seluruh
badan gini dengan dia.”
“OK, nggak apa-apa. Lalu reaksi dia
gimana waktu ngeliat susu kamu?”
“Dia suka Mbah…dia pernah megang-
megang juga. Katanya dadaku
bagus.”
“Oh ya? Dia megangnya gimana?
Apa begini?” tanya Mbah Sukro
sambil kedua tangannya menempel
ke kedua payudara A-mei.
“Iih, Mbah. Jangan Mbah,” kata A-mei
sambil secara refleks bergerak
mundur.
“Lho, kenapa. Ayo jawab. Ingat
kamu tidak boleh punya pikiran
kotor. Mengerti?, kata Mbah Sukro
sementara kedua tangannya masih
menempel ke dada A-mei.
“Me-mengerti Mbah.”
“Jadi gimana caranya memegang
susu kamu? Apakah begini?”, katanya
sambil tangannya dilepaskan dari
dada A-mei sebentar lalu diremasnya
kedua payudara A-mei.
“Atau begini?” kata Mbah Sukro,
sambil kedua ibu jarinya meraba-
raba dan menggerak-gerakkan kedua
putingnya.
“Ya..ya..ya semuanya Mbah,” kata A-
mei tertunduk malu.
“Huahahaha. Wah, cowok kamu
memang beruntung dan pintar cari
pacar.”
“Lalu kamu suka digituin sama
cowok kamu?”
“Suka Mbah.”
“Sama seperti sekarang, kamu juga
suka Mbah begini-in?” katanya sambil
meraba-rabai seluruh bagian
payudara A-mei.
“Ehmm… suka Mbah.”
“Bagus. Itu wajar karena itu
tandanya kamu gadis yang sudah
dewasa.”
Ia memperhatikan dan merasakan
kedua puting A-mei kini semakin
mengeras dan menonjol dibanding
pertama kali telanjang. Mungkin
karena suhu kamar yang agak sejuk
atau mungkin karena tegang dengan
suasana itu.
“Umurmu berapa sih Nik?”
“Tujuh belas tahun. Aku baru ulang
tahun 4 bulan lalu.”
“Jadi memang kamu sudah jadi gadis
dewasa. Kamu ibarat bunga yang
baru mekar dan harum semerbak
yang sudah siap dihisap madunya,
Nik. Kamu sudah siap untuk kawin,
Nik.”
“Iiih. Aku khan baru umur 17 tahun.
Masih lama untuk married, Mbah.”
“Ah, nggak betul itu. Istri pertama
Mbah waktu menikah sama Mbah
dulu juga seumuran kamu, Nik, 17
tahun juga..”
“Oh ya? Kapan itu Mbah?”
“Wah, itu sudah lama sekali. Dulu
waktu dia masih muda dan cantik.
Sekarang istri Mbah sudah tidak
muda lagi, sudah 40 tahun lebih. Tapi
meskipun dulu waktu dia masih
muda juga nggak bisa ngalahin
kamu, Nik. Kamu jauh lebih cantik
dan lebih putih dari dia. Ya memang
beda lah, gadis desa dibandingkan
dengan anak gadis pengusaha kaya
di kota besar. Tapi jeleknya orang
kota itu suka kawin telat. Padahal itu
tidak bagus untuk hormon tubuh.
Terutama cewek. Apalagi kawin itu
sebenarnya enak lho.”
“Memang enaknya apa sih Mbah?”
“Enaknya apa, itu mesti dirasakan
sendiri baru tahu, Nik. Dan untuk
orang kota yang kawin telat seperti
kamu gini, perlu ada persiapan lahir
batin dari sekarang. Supaya nantinya
tidak kagok dan bisa
membahagiakan suami sejak malam
pertama perkawinan.”
“Persiapannya apa aja sih Mbah?”
“Persiapannya seperti apa susah
diungkapkan dengan perkataan.
Lebih jelas kalau dilakukan langsung.
Mbah bisa ngajarin kamu sekarang.
Asalkan pikiran kamu tenang dan
ikhlas karena ini semua demi
membahagiakan suami kamu kelak.
Gimana, mau nggak?”
“Ehhm, tapi aku nggak tahu mesti
gimana, Mbah?”
“Nggak usah kuatir, Nik. Kamu manut
aja sama Mbah, nanti khan kamu
jadi bisa sendiri,” katanya sambil
penuh nafsu memandangi sekujur
tubuh A-mei yang telanjang,” Yuk,
sekarang kamu lanjutkan latihan ini
dulu, setelah itu kamu Mbah ajari
yang itu,” katanya.
Sebenarnya awalnya Mbah Sukro
hanya ingin membalas dendam
dengan mempermainkan A-mei
dengan cara menyuruhnya telanjang
bulat di depannya saja. Namun kini
setelah melihat cewek ini telanjang
bulat dan begitu penurut begini, Mbah
Sukro jadi bernafsu ingin menikmati
tubuh perawannya. Apalagi sudah
lama sekali sejak terakhir kali ia
menikmati seorang wanita, itupun
juga dengan kedua istrinya yang
sudah tidak muda lagi. Kini di depan
matanya ada seorang gadis perawan
yang bersikap sangat kooperatif
terhadapnya. Ditambah lagi ia tak
pernah menikmati gadis kota seperti
A-mei gini. Sekaligus ini adalah
pembalasan yang telak terhadap
papanya. Namun yang menjadi
kendalanya adalah ia tidak mungkin
melanggar pantangannya sendiri.
Karena salah-salah taruhannya
adalah nyawanya.
Ah, sungguh bodoh kau ini, batin
Mbah Sukro. Kenapa mesti takut
kehilangan kesaktianmu barang
sehari? Bukankah kau ada di dalam
rumah yang telah dilindungi oleh
jimat yang kaupasang sendiri?
Biarpun kesaktianmu hilang, asalkan
kau tidak keluar rumah sampai
matahari terbenam besok, semuanya
akan baik-baik saja. Dan kau bisa
meninggalkan rumah ini setelah
matahari terbenam.
Sekaligus hal ini membuktikan
bahwa apabila tidak ada serangan
yang mampu mengenai dirinya, hal
itu menandakan kalau jimat yang
dipasangnya betul-betul bekerja.
Hehehe, rasain kau, Wijaya. Salahmu
sendiri kamu meragukan jimatku. Kini
anak gadismu yang akan kupake
untuk membuktikan apakah jimat itu
betul-betul bekerja. Lumayan juga
bisa menikmati anak perawanmu
yang manis ini.
Setelah teringat akan kesaktian
jimatnya sekaligus cara untuk
membalas perlakuan kliennya itu, kini
nafsu birahinya jadi benar-benar tak
terbendung lagi, yang harus
dilampiaskan saat itu juga.
“Waduuh, mulusnya kamu Nik.
Sampai-sampai kamu bikin Mbah jadi
ngaceng. Apalagi baru kali ini Mbah
lihat Nonik seperti kamu gini
telanjang. Betul-betul putih dan
merangsang.
“Nah gitu, bagus. Pikiran kamu tetap
tenang ya,” kata Mbah Sukro
mengelilingi A-mei memandangi
sekujur tubuh telanjangnya dalam
jarak dekat. Saat berada di belakang
A-mei, kedua tangannya meraba-
raba punggungnya yang putih mulus
dari atas sampai ke bawah dan
diremas-remasnya pantat A-mei yang
bulat sexy itu.
“Hmm, kulitmu halus dan mulus
banget, Nik.”
Lalu tangannya beralih ke depan, kini
meraba-rabai payudara A-mei.
“Waah, susumu betul-betul kenyal
Nik. Dan putih mulus. Lihat tuh, Iiiih,
puting kamu segar banget dan
menonjol gini,” komentar Mbah Sukro
dan kedua telunjuknya digesekkan di
kedua puting A-mei.
“Aduuh. Jangan gitu Mbah. Geli,” kata
A-mei sambil tubuhnya menggeliat
berusaha melepaskan diri dari
cengkeraman Mbah Sukro.
“Aah, masa cuma diginiin aja kok
geli. Tapi gimana rasanya, Nik? Enak
khan?”
“Nggak mau ah Mbah, kalo gini,” kata
A-mei. Namun “protesnya” cuman di
mulut saja karena ia membiarkan
Mbah Sukro jari jemari dukun tua itu
meraba-raba dadanya. Kelihatan
kalau sebenarnya ia menikmati
permainan itu.
“Nah, sekarang kita lanjutkan latihan
tingkat berikutnya sekaligus Mbah
ajarin kamu gimana caranya
membahagiakan suamimu kelak.
Ingat, ini semua demi kebaikan kamu
sendiri. Mengerti?”
“Mengerti, Mbah.”
“Bagus. Nah, sekarang Mbah juga
melepas semua baju Mbah jadi kita
sama-sama bugil.”
Mbah Sukro melepas baju hitamnya
sehingga nampak dadanya yang
hitam telanjang. Kulitnya telah
berkeriput. Kemudian ia membuka
sarungnya. Nampak tonjolan di balik
celana dalamnya.
“Supaya kamu tidak penasaran, ini
Mbah tunjukkan tongkol pria dewasa
milik Mbah yang bisa memuaskan
anak gadis seperti kamu, Nik.”
Tanpa malu-malu lagi, bandot tua
umur 60 tahun itu melepas celana
dalamnya di depan A-mei, gadis belia
berumur 17 tahun. Kini Mbah Sukro
juga telah telanjang bulat. Nampak
kulit tubuhnya yang hitam legam dan
keriput. Sungguh kontras berbeda
dengan A-mei yang putih mulus dan
segar. Namun A-mei tersipu malu
dibuatnya, karena meski telah
berumur 60-an dan kulitnya telah
keriput, namun tongkol Mbah Sukro
masih mampu ngaceng dengan
tegaknya. Apalagi ukurannya
termasuk besar dibandingkan dengan
tubuhnya yang kurus, terutama
kepalanya yang disunat jadi nampak
makin besar.
“Nah, lihat, ****** Mbah sekarang jadi
ngaceng gara-gara ngeliat gadis
muda belia telanjang bulat. Karena
Mbah jadi terangsang karena
kemulusan tubuhmu, A-mei, dan juga
karena kecantikan wajahmu,
keindahan susumu, kulitmu yang
putih halus, pahamu, rambut
kemaluanmu, dan daya tarik
seksualmu secara keseluruhan yang
membuat orang laki normal jadi ingin
menikmati dirimu. Apalagi Mbah
sebelumnya nggak pernah mencicipi
nonik-nonik seperti kamu gini. Jadi,
beginilah suamimu nanti, juga akan
terangsang terhadap kamu sama
seperti Mbah sekarang. Dan untuk itu
kamu harus bisa melayani suamimu
dengan sebaik mungkin, bikin dia
puas. Dengan begitu, kamu juga
akan mendapatkan kepuasan yang
luar biasa. Nah, supaya nantinya
kamu tidak canggung dengan suami
kamu, mari sekarang kamu latihan
dulu dengan Mbah.”
Lalu didekapnya A-mei dan diciumi
wajahnya dengan penuh nafsu.
Dijelajahi wajah gadis belia nan
cantik itu dengan bibirnya.
Dilumatnya bibir A-mei dengan
ganas. Diciuminya lehernya sambil
tangannya meraba-raba payudara A-
mei dan meremas-remasnya.
tongkolnya yang hitam dan berdiri
tegak itu menempel di tubuh putih A-
mei.
A-mei didorongnya ke arah tempat
tidurnya lalu ditidurkannya ia dengan
telentang di atas kasur. Ia sengaja
membuka kaki A-mei lebar-lebar
supaya ia bisa melihat dengan jelas
vagina A-mei yang masih perawan
itu. Vaginanya berwarna kemerahan.
Sementara diatasnya nampak
rambut-rambut kemaluannya yang
halus tumbuh di atas kulitnya yang
putih. Klitorisnya nampak mencuat di
bagian atas liang vaginanya.
Digarapnya gadis belia yang masih
perawan itu oleh si bandot tua.
Diciuminya kedua payudara A-mei.
Mukanya dibenamkan ke dua bukit
kembar itu. Mulutnya aktif menjilati
seluruh bagian payudara perawan itu.
Terutama kedua putingnya yang
diemut dan dikenyot-kenyot di dalam
mulutnya. A-mei merasakan kedua
putingnya bergantian dikenyot-
kenyot di dalam mulut Mbah Sukro
yang hangat. Apalagi suhu ruangan
yang ber-AC awalnya membuatnya
agak kedinginan. Kini kecupan-
kecupan hangat Mbah Sukro mampu
menghangatkan tubuhnya terutama
dadanya.
Meskipun usianya telah kepala enam,
namun rupanya Mbah Sukro tahu
bagaimana caranya membuat panas
seorang dara perawan belasan tahun.
Terbukti A-mei sangat menikmati
permainan lidah dan kenyotan Mbah
Sukro diatas payudaranya. Apalagi
Sukronya yang lebat menggelitik
payudaranya yang membuatnya
makin terangsang. Tanpa sadar, ia
mendesah-desah dibuatnya.
“Ehhhmm, ehhmmm, ooohhh,
oooohhhhh.”
Suara desahannya itu bercampur
dengan suara kecupan Mbah Sukro
yang asyik menciumi payudara A-
mei.
Mbah Sukro menyuruh A-mei berbalik
telungkup. Rambutnya yang sebahu
menempel di punggungnya yang
putih mulus. Pantatnya nampak sexy
menonjol. Segera diciuminya sekujur
punggung dan pantat A-mei yang
putih. Kembali Sukronya menggelitik
sekujur punggung A-mei.
Lalu diraba-raba kedua pantat A-mei
dan diremas-remasnya pantat nan
sexy itu. Didudukinya punggung A-
mei dan tongkolnya yang hitam
ditempelkan di punggung A-mei yang
putih. Nampak kontras perbedaan
warnanya. Digesek-gesekkan batang
tongkolnya berikut kedua pelirnya di
sekujur punggung putih A-mei.
Bagaikan kuas hitam yang menyapu
seluruh bagian kanvas putih.
Sementara tongkol Mbah Sukro telah
mulai basah karena cairan pre-cum.
Sehingga di beberapa tempat,
punggung A-mei menjadi sedikit
basah terkena gesekannya.
Digesek-gesekkan batang tongkolnya
ke pantat A-mei. Lalu dijepitnya
diantara kedua pantat A-mei dan
digesek-gesekkannya. Sehingga
ujung ****** Mbah Sukro jadi
semakin basah yang membuat
pantat A-mei menjadi ikutan basah.
Setelah puas bermain-main di
punggungnya, kembali A-mei
ditelentangkan. Kedua kaki A-mei
dibukanya lebar-lebar. Lalu kepalanya
menyusup diantara kedua paha
mulus A-mei. Dijilatinya vagina
perawan A-mei yang kemerahan itu.
Dan setelah itu diemut-emut dan
dihisap-hisap vagina perawan itu.
Lidahnya nampak begitu lincah
menari-nari di sekitar wilayah
terlarang milik dara muda itu.
Sehingga tanpa dicegah lagi
vaginanya menjadi basah dibuatnya,
membuat A-mei mendesah-desah
karena kenikmatan yang
dirasakannya itu.
“Nah, sekarang coba kamu genggam
dengan tangan kamu, Nik”, kata
Mbah Sukro menyuruh A-mei
memegang batang tongkolnya. Yang
segera dilakukannya tanpa protes.
“Bagus, nah sekarang coba kamu
kocok pelan-pelan.”
“Ya, bagus begitu. Lakukan terus,
jangan berhenti dulu,” kata Mbah
Sukro menikmati ****** hitamnya
dikocok oleh tangan halus milik gadis
putih mulus itu. Sementara kedua
tangannya memegang-megang
payudara cewek itu. Kedua putingnya
nampak makin mengeras dan
memanjang. Sehingga membuat
Mbah Sukro meraba-raba puting
segar kemerahan milik dara perawan
itu dengan kedua ibu jarinya yang
hitam. Nampak ia sangat bernafsu
sekali dengan kedua payudara A-mei
sampai-sampai ia menciuminya
dengan liar. Dijulurkannya lidahnya
kesana kemari di dada dara ini.
Terutama di kedua putingnya karena
ia tahu bahwa bagian ini adalah
bagian sensitif buat cewek ini.
Lalu ditelentangkannya A-mei dan
ditindihnya dara yang putih mulus itu
dengan tubuhnya yang hitam dan
kulitnya telah keriput. Diciuminya
bibir dan leher dara itu dengan penuh
nafsu. Dadanya yang hitam dan
keriputan menempel di payudara
cewek muda itu. Meski usianya telah
tua, namun ia nampak masih perkasa
saja. Batang tongkolnya masih
mengeras dengan gagahnya
menempel di dekat vagina cewek itu.
Setelah puas menciumi A-mei, kini
saatnya ia menikmati ‘hadiah
utamanya’. Ia membuka kedua paha
A-mei lebar-lebar. Sementara batang
tongkolnya yang hitam dan berurat
itu menegang dengan keras.
Didekatkannya kepala penisnya yang
membesar itu ke depan liang vagina
perawan itu, yang saat itu nampak
pasrah dan tanpa perlawanan sama
sekali. Lalu segera didorongnya
tubuhnya ke depan, dan, ugh dinding
vagina perawan itu rupanya mampu
menahan daya laju benda tumpul itu.
Mbah Sukro mencobanya lagi dengan
lebih bertenaga, dan akhirnya,
“Cleeeep”,
kepala penisnya akhirnya berhasil
masuk ke dalam tubuh dara yang
kini sudah menjadi tidak perawan
lagi itu.
“Aaahhhhhh”, seketika A-mei
menjerit karena rasa nyeri saat
kepala penis Mbah Sukro masuk ke
dalam tubuhnya.
Lalu didorongnya tubuhnya sehingga
seluruh penisnya amblas masuk ke
dalam tubuh gadis yang kini tentunya
sudah bukan gadis lagi itu.
“AAAhhhhhh,” A-mei kembali
menjerit merasakan perih di
vaginanya.
Namun Mbah Sukro tidak
mempedulikan jeritan gadis itu.
Pikirannya telah dipenuhi nafsu ingin
menikmati tubuh gadis muda itu
selama dan semaksimal mungkin.
Segera dimaju-mundurkan penisnya
di dalam tubuh gadis itu, menikmati
rapatnya gesekan vaginanya.
“Ahhhh, aaahhhh, aaahhhhhh,
aaahhhhhh,” A-mei mendesah-desah
dibuatnya. Rasa nyeri dan perih yang
mula-mula dirasakannya kini menjadi
bercampur dengan rasa enak yang
tak terbayangkan sebelumnya. Rasa
perih-perih enak itu membuatnya
tidak mempedulikan apa-apa lagi dan
tanpa dapat dicegah lagi
membuatnya mendesah-desah dan
merintih-rintih tak keruan. Ia tidak
mempedulikan lagi bahwa pria yang
menikmati tubuhnya itu sudah uzur
dan keriputan. Sementara rasa perih
dan nyeri itu berangsur-angsur hilang,
sehingga kini hanya tinggal rasa
enaknya saja. Membuatnya makin
lupa diri akan tata krama sebagai
seorang gadis muda yang harus
menjaga kehormatan dirinya.
Sementara Mbah Sukro makin
semangat menyetubuhi cewek muda
putri kliennya itu. Kapan lagi aku bisa
menikmati tubuh cewek muda cantik
dan sexy kayak gini, pikirnya. Dan
masih perawan lagi. Di desa tidak
ada cewek yang kayak gini. Biarlah
kesaktianku hilang sehari tak
masalah. Meski sudah tua, tapi ia
masih kuat untuk mengocok gadis
muda itu. Penisnya dengan gagahnya
mengobrak-abrik vagina cewek itu.
Membuat A-mei benar-benar tak
berkutik dan hanya bisa mendesah-
desah menikmati apa yang dilakukan
pria tua itu terhadap dirinya.
Mbah Sukro terus menyetubuhi A-mei
dengan menindihnya. Sementara
tongkolnya terus mengocok-ngocok
vagina gadis itu, mulutnya asyik
mengulum dan menghisap-hisap
payudara cewek itu. Mbah Sukro
yang biasa mengemut rokok kretek
kini mendapat rejeki nomplok bisa
mengemut susunya A-mei.
Nampak kontras sekali pemandangan
itu. Tubuh pria kurus yang hitam dan
keriput itu menindih tubuh gadis
muda yang putih mulus. Dan
tongkolnya yang hitam menembusi
ke dalam tubuh gadis itu.
Lalu Mbah Sukro menyetubuhi A-mei
dalam posisi doggy style. Meski tua-
tua begitu, dengan gayanya seperti
koboi ia sanggup juga ‘menunggang’
dan menggoyang-goyang tubuh A-
mei yang lagi-lagi hanya bisa
menjerit-jerit dan mendesah-desah
keenakan. Kedua payudaranya
bergoyang-goyang dibuatnya.
Direngkuhnya payudara gadis itu
dengan kedua tangannya dan
diremas-remasnya sambil terus
menggoyang tubuh gadis muda itu.
Sementara itu, digenjotnya terus A-
mei dengan tongkolnya.
Ia mengganti posisi. Ditaruhnya
kedua kaki A-mei di pundaknya, lalu
dimasukkannya penisnya ke dalam
vagina cewek itu dan dikocoknya.
Dipandanginya kedua payudara A-
mei yang bergerak-gerak mengikuti
gerakan penisnya itu. Akhirnya A-mei
tidak tahan lagi dan ia mendapatkan
orgasmenya. Itulah orgasmenya yang
pertama gara-gara disetubuhi oleh
seorang laki-laki.
Setelah mengetahui A-mei baru
mengalami orgasme, Mbah Sukro
merasa bangga juga. Bangga karena
bisa menikmati kemulusan dan
keperawanannya serta bangga bisa
membuat gadis muda 17 tahun
mengalami orgasme. Tak lama
setelah itu, akhirnya ia mengalam
ejakulasi juga dengan menumpahkan
seluruh spermanya di dalam vagina
A-mei.
Setelah seluruh spermanya habis, ia
mencabut batang tongkolnya yang
baru saja mengambil korbannya
dengan memerawani A-mei, gadis
belia itu. Ia tersenyum saat melihat
ada bercak darah di sekitar vagina A-
mei. Bangga juga ia bisa merenggut
keperawanan gadis muda seperti A-
mei ini sekaligus membuatnya
orgasme.
“Waah, gila ternyata kamu betul-
betul masih perawan ya, Nik. Nggak
rugi Mbah ngasih pelajaran ke gadis
cantik dan sexy seperti kamu.
“Nah, sekarang kamu sudah tahu
khan gimana caranya memuaskan
suamimu kelak. Dan sekarang kamu
sudah mengerti gimana rasanya
enaknya kawin.”
“Iya Mbah. A-mei nggak nyangka
kalo rasanya begini enak.”
“Sekarang setelah “pelajaran” selesai,
kamu boleh pake bajumu lagi. Nanti
masuk angin. Sekarang Mbah mau
tidur dulu ya. Karena “pelajaran ini”,
sekarang Mbah jadi capek sekali.”
“Iya Mbah, A-mei juga capek sekali.
OK, sampe ketemu besok pagi
Mbah.”
“Baik. Selamat malam.”
Malam itu Mbah Sukro kehilangan
kesaktiannya dan secara fisik cape
sekali. Namun ia merasa aman
karena terlindungi oleh jimatnya.
Sementara hatinya puas. Karena
akhirnya ia berhasil mengambil “sisa
bayarannya” dengan memerawani
dan menikmati kehangatan A-mei di
ranjang sekaligus membalas sakit
hati nya terhadap Pak Wijaya.
Sementara A-mei pun juga tidur
dengan puas karena ia merasa
mendapat “pendidikan” yang
berharga dari Mbah Sukro sekaligus
merasakan kenikmatan yang tak
pernah dirasakan sebelumnya.
Sementara Pak Wijaya yang telah
tertidur pulas sama sekali tidak tahu
akan peristiwa yang terjadi malam
itu.
Keesokan harinya, seperti yang
direncanakan sebelumnya, setelah
seharian istirahat total, Mbah Sukro
meninggalkan rumah itu setelah
matahari terbenam. Ia tiba di
rumahnya saat hari menjelang subuh.
Sejak meninggalkan rumah itu, ia
merasakan bagian ulu hatinya agak
nyeri. Namun ia tidak terlalu
menggubrisnya. Tapi alangkah
kagetnya saat keesokan harinya,
rasa nyeri itu bukannya hilang malah
makin bertambah. Dan malamnya,
ulu hatinya bagai ditusuk-tusuk.
Sungguh ia tidak mengerti
bagaimana ini bisa terjadi, karena
kesaktiannya sebenarnya telah pulih.
Apakah kini telah ada dukun lain
yang lebih sakti yang menjahili
dirinya? Ia sibuk memikirkan siapa
orang yang berani menjahili dirinya.
Sementara itu rasa sakitnya semakin
menjadi-jadi. Sampai akhirnya ia
benar-benar tak tahan lagi.
Dan beberapa hari kemudian, ada
kabar heboh, yaitu Mbah Sukro,
dukun sakti yang tiada tandingannya,
yang disegani kawan maupun lawan,
dengan tidak disangka-sangka
meninggal dunia tanpa diketahui
secara pasti penyebabnya. Hal ini
sungguh mengejutkan terutama bagi
dukun-dukun yang selama ini
menjadi lawannya. Karena
susungguhnya tidak ada seorang pun
yang berani menjahilinya.
Lalu apa penyebab kematiannya?
Ternyata kematiannya bukan
disebabkan oleh para pesaingnya. Ia
lupa bahwa ia telah mengaktifkan
jimat pelindung yang akan
menyerang balik siapa pun yang
mengganggu penghuni rumah itu.
Dengan menipu gadis polos seperti A-
mei apalagi sampai melangkah
terlalu jauh dengan merenggut
kegadisannya, ia telah secara fatal
mengganggu penghuni rumah itu.
Sehingga jimatnya kini bekerja
menyerang dirinya sendiri. Oleh
karena pikirannya melulu terfokus
untuk menangkal kemungkinan
serangan dari pihak luar serta
arogansi dirinya yang merasa sebagai
orang sakti tiada tandingan dan
ditambah pikirannya yang dipenuhi
nafsu birahi, malam itu ia sama sekali
melupakan kemungkinan serangan
balik dari jimat yang dipasangnya
sendiri.
Namun semuanya sudah terlambat.
Ia tak dapat menangkal serangan
jimat itu karena sumber kekuatannya
berasal dari dirinya. Semakin ia
mengerahkan tenaganya untuk
menahan serangan, semakin kuat
serangan jimat itu terhadap dirinya.
Sementara, setelah disembahyangi
selama 8 hari, kekuatan jimat itu
tidak bisa dibatalkan sebelum
kekuatannya akan menurun dengan
sendirinya setelah beberapa tahun.
Jadi kini terbuktilah kalau jimat yang
dipasang di rumah itu benar-benar
ampuh. Namun ironisnya, justru
pemasangnyalah yang menjadi
korban pertama dan satu-satunya
dari jimat tersebut.
Demikianlah nasib Mbah Sukro yang
berakhir tragis. Orang sakti yang tak
terkalahkan dan tak ada orang lain
yang sanggup mengalahkannya,
pada akhirnya jatuh karena
kesalahan dirinya sendiri dan
meninggal karena kesaktiannya
sendiri. Dan itulah akhir lembaran
hidupnya.
Sementara, ini adalah awal lembaran
kehidupan baru bagi A-mei. Ia sama
sekali tak terpengaruh atau tahu
menahu akan dunia mistik yang
terjadi di sekitar dirinya. Tapi yang
jelas, kejadian malam itu sungguh
telah mengubah kehidupannya. Dari
semula gadis yang polos dan lugu,
kini ia menjadi sangat haus untuk
mendapatkan pengalaman baru yang
sangat menggelorakan hati itu, lagi,
lagi, dan lagi.
1 | 1 | 13000
BACK




Home
Cerita-XXX
Cerita Stim
Cerita Erotis
Sumber Cerita
Thai Stories


© 2009 - 2014 CeritaKita-X
Cerita mesum dan Artikel seks