Situs Cerita Sex Dewasa



Cerita Dewasa
www.ceritakita.hexat.com

Istri Tetangga

Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda
malam di lingkungan tempat
tinggalku berjalan dengan baik.
Setiap malam ada satu grup terdiri
dari tiga orang. Sebagai anak belia
yang sudah bekerja aku dapat giliran
ronda pada malam minggu.
Pada suatu malam minggu aku giliran
ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua
orang temanku tidak muncul di pos
perondaan. Aku tidak peduli mau
datang apa tidak, karena aku
maklum tugas ronda adalah sukarela,
sehingga tidak baik untuk dipaksa-
paksa. Biarlah aku ronda sendiri tidak
ada masalah.
Karena memang belum mengantuk,
aku jalan-jalan mengontrol kampung.
Biasanya kami mengelilingi rumah-
rumah penduduk. Pada waktu
sampai di samping rumah Pak Tadi,
aku melihat kaca nako yang belum
tertutup. Aku mendekati untuk
melihat apakah kaca nako itu
kelupaan ditutup atau ada orang
jahat yang membukanya. Dengan
hati-hati kudekati, tetapi ternyata
kain korden tertutup rapi.
Kupikir kemarin sore pasti lupa
menutup kaca nako, tetapi langsung
menutup kain kordennya saja.
Mendadak aku mendengar suara
aneh, seperti desahan seseorang.
Kupasang telinga baik-baik, ternyata
suara itu datang dari dalam kamar.
Kudekati pelan-pelan, dan darahku
berdesir, ketika ternyata itu suara
orang bersetubuh. Nampaknya ini
kamar tidur Pak Tadi dan istrinya.
Aku lebih mendekat lagi, suaranya
dengusan nafas yang memburu dan
gemerisik dan goyangan tempat tidur
lebih jelas terdengar. “Ssshh…
hhemm… uughh… ugghh, terdengar
suara dengusan dan suara orang
seperti menahan sesuatu. Jelas itu
suara Bu Tadi yang ditindih suaminya.
Terdengar pula bunyi kecepak-
kecepok, nampaknya penis Pak Tadi
sedang mengocok liang vagina Bu
Tadi.
Aduuh, darahku naik ke kepala,
penisku sudah berdiri keras seperti
kayu. Aku betul-betul iri
membayangkan Pak Tadi
menggumuli istrinya. Alangkah
nikmatnya menyetubuhi Bu Tadi yang
cantik dan bahenol itu.
“Oohh, sshh buuu, aku mau keluar,
sshh…. ssshh..” terdengar suara Pak
Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-
kecepok makin cepat, dan kemudian
berhenti. Nampaknya Pak Tadi sudah
ejakulasi dan pasti penisnya
dibenamkan dalam-dalam ke dalam
vagina Bu Tadi. Selesailah sudah
persetubuhan itu, aku pelan-pelan
meninggalkan tempat itu dengan
kepala berdenyut-denyut dan penis
yang kemeng karena tegang dari
tadi.
Sejak malam itu, aku jadi sering
mengendap-endap mengintip
kegiatan suami-istri itu di tempat
tidurnya. Walaupun nako tidak
terbuka lagi, namun suaranya masih
jelas terdengar dari sela-sela kaca
nako yang tidak rapat benar. Aku
jadi seperti detektip partikelir yang
mengamati kegiatan mereka di sore
hari. Biasanya pukul 21.00 mereka
masih melihat siaran TV, dan sesudah
itu mereka mematikan lampu dan
masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai
melihat situasi apakah aman untuk
mengintip mereka. Apabila aman,
aku akan mendekati kamar mereka.
Kadang-kadang mereka hanya
bercakap-cakap sebentar, terdengar
bunyi gemerisik (barangkali
memasang selimut), lalu sepi. Pasti
mereka terus tidur. Tetapi apabila
mereka masuk kamar, bercakap-
cakap, terdengar ketawa-ketawa
kecil mereka, jeritan lirih Bu Tadi
yang kegelian (barangkali dia
digelitik, dicubit atau diremas buah
dadanya oleh Pak Tadi), dapat
dipastikan akan diteruskan dengan
persetubuhan. Dan aku pasti
mendengarkan sampai selesai.
Rasanya seperti kecanduan dengan
suara-suara Pak Tadi dan khususnya
suara Bu Tadi yang keenakan
disetubuhi suaminya.
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti
biasa. Apabila aku bertemu Bu Tadi
juga biasa-biasa saja, namun tidak
dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta
sama istri Pak Tadi itu. Orangnya
memang cantik, dan badannya padat
berisi sesuai dengan seleraku.
Khususnya pantat dan buah dadanya
yang besar dan bagus. Aku
menyadari bahwa hal itu tidak akan
mungkin, karena Bu tadi istri orang.
Kalau aku berani menggoda Bu Tadi
pasti jadi masalah besar di
kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli
atau diusir dari kampungku. Tetapi
nasib orang tidak ada yang tahu.
Ternyata aku akhirnya dapat
menikmati keindahan tubuh Bu Tadi.
Pada suatu hari aku mendengar Pak
Tadi opname di rumah sakit, katanya
operasi usus buntu. Sebagai tetangga
dan masih bujangan aku banyak
waktu untuk menengoknya di rumah
sakit. Dan yang penting aku mencoba
membangun hubungan yang lebih
akrab dengan Bu Tadi. Pada suatu
sore, aku menengok di rumah sakit
bersamaan dengan adiknya Pak Tadi.
Sore itu, mereka sepakat Bu Tadi
akan digantikan adiknya menunggu
di rumah sakit, karena Bu Tadi sudah
beberapa hari tidak pulang. Aku
menawarkan diri untuk pulang
bersamaku. Mereka setuju saja dan
malah berterima kasih. Terus terang
kami sudah menjalin hubungan lebih
akrab dengan keluarga itu.
Sehabis mahgrib aku bersama Bu
Tadi pulang. Dalam mobilku kami
mulai mengobrol, mengenai sakitnya
Pak Tadi. Katanya seminggu lagi
sudah boleh pulang. Aku mulai
mencoba untuk berbicara lebih dekat
lagi, atau katakanlah lebih kurang
ajar. Inikan kesempatan bagus sekali
untuk mendekatai Bu Tadi.
“Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong
Bu Tadi sudah berkeluarga sekitar 3
tahun kok belum diberi momongan
yaa”, kataku hati-hati.
“Ya, itulah Dik Budi. Kami kan hanya
lakoni. Barangkali Tuhan belum
mengizinkan”, jawab Bu Tadi.
“Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya
khan jalan terus.” godaku.
“Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik
Budi” jawab Bu Tadi agak kikuk.
Sebenarnya kan aku tahu, mereka
setiap minggunya minmal 2 kali
bersetubuh dan terbayang kembali
desahan Bu Tadi yang keenakan.
Darahku semakin berdesir-desir. Aku
semakin nekad saja.
“Tapi, kok belum berhasil juga yaa
bu?” lanjutku.
“Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi
ngomong-ngomong kapan Dik Budi
kimpoi. Sudah kerja, sudah punya
mobil, cakep lagi. Cepetan dong.
Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Tadi.
“Eeh, benar nih Bu Tadi. Aku cakep
niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku
Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu
Tadi ini lhoo”, kataku menggodanya.
“Lho, kok hanya kayak saya. Yang
lain yang lebih cakep kan banyak.
Saya khan sudah tua, jelek lagi”,
katanya sambil ketawa.
Aku harus dapat memanfaatkan
situasi. Harus, Bu tadi harus aku
dapatkan.
“Eeh, Bu Tadi. Kita kan nggak usah
buru-buru nih. Di rumah Bu Tadi juga
kosong. Kita cari makan dulu yaa.
Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku
dengan penuh kekhawatiran jangan-
jangan dia menolak.
“Tapi nanti kemaleman lo Dik”,
jawabnya.
“Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”,
aku sedikit memaksa.
“Yaa gimana yaa… ya deh terserah
Dik Budi. Tapi nggak malam-malam
lho.” Bu Tadi setuju. Batinku bersorak.
Kami berehenti di warung bakmi
yang terkenal. Sambil makan kami
terus mengobrol. Jeratku semakin
aku persempit.
“Eeh, aku benar-benar tolong
dicarikan istri yang kayak Bu Tadi
dong Bu. benar nih. Soalnya begini
bu, tapii eeh nanti Bu Tadi marah
sama saya. Nggak usaah aku
katakan saja deh”, kubuat Bu Tadi
penasaran.
“Emangnya kenapa siih.” Bu tadi
memandangku penuh tanda tanya.
“Tapi janji nggak marah lho.” kataku
memancing. Dia mengangguk kecil.
“Anu bu… tapi janji tidak marah lho
yaa.”
“Bu Tadi terus terang aku terobsesi
punya istri seperti Bu tadi. Aku benar-
benar bingung dan seperti orang gila
kalau memikirkan Bu Tadi. Aku
menyadari ini nggak betul. Bu Tadi
kan istri tetanggaku yang harus aku
hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali
bu. aku sudah kurang ajar sekali”,
kataku menghiba. Bu Tadi melongo,
memandangiku. sendoknya tidak
terasa jatuh di piring. Bunyinya
mengagetkan dia, dia tersipu-sipu,
tidak berani memandangiku lagi.
Sampai selesai kami jadi berdiam-
diaman. Kami berangkat pulang.
Dalam mobil aku berpikir, ini sudah
telanjur basah. Katanya laki-laki
harus nekad untuk menaklukkan
wanita. Nekad kupegang tangannya
dengan tangan kiriku, sementara
tangan kananku memegang setir. Di
luar dugaanku, Bu Tadi balas
meremas tanganku. Batinku bersorak.
Aku tersenyum penuh kemenangan.
Tidak ada kata-kata, batin kami,
perasaan kami telah bertaut.
Pikiranku melambung, melayang-
layang. Mendadak ada sepeda motor
menyalib mobilku. Aku kaget.
“Awaas! hati-hati!” Bu Tadi menjerit
kaget.
“Aduh nyalib kok nekad amat siih”,
gerutuku.
“Makanya kalau nyetir jangan
macam-macam”, kata Bu tadi. Kami
tertawa. Kami tidak membisu lagi,
kami ngomong, ngomong apa saja.
Kebekuan cair sudah. Sampai di
rumah aku hanya sampai pintu
masuk, aku lalu pamit pulang.
Di rumah aku mencoba untuk tidur.
Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak
nyaman juga. Aku terus
membayangkan Bu Tadi yang
sekarang sendirian, hanya ditemani
pembantunya yang tua di kamar
belakang. Ada dorongan sangat kuat
untuk mendatangi rumah Bu Tadi.
Berani nggaak, berani nggak.
Mengapa nggak berani. Entah setan
mana yang mendorongku, tahu-tahu
aku sudah keluar rumah. Aku
mendatangi kamar Bu Tadi. Dengan
berdebar-debar, aku ketok pelan-
pelan kaca nakonya, “Buu Tadi, aku
Budi”, kataku lirih. Terdengar
gemerisik tempat tidur, lalu sepi.
Mungkin Bu Tadi bangun dan takut.
Bisa juga mengira aku maling. “Aku
Budi”, kataku lirih. Terdengar
gemerisik. Kain korden terbuka
sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat
belakang!” kata Bu Tadi. Aku menuju
ke belakang ke pintu dapur. Pintu
terbuka, aku masuk, pintu tertutup
kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu
Tadi aku peluk erat-erat, kuciumi
pipinya, hidungnya, bibirnya dengan
lembut dan mesra, penuh kerinduan.
Bu Tadi membalas memelukku,
wajahnya disusupkan ke dadaku.
“Aku nggak bisa tidur”, bisikku.
“Aku juga”, katanya sambil
memelukku erat-erat.
Dia melepaskan pelukannya. Aku
dibimbingnya masuk ke kamar
tidurnya. Kami berpelukan lagi,
berciuman lagi dengan lebih bernafsu.
“Buu, aku kangen bangeeet. Aku
kangen”, bisikku sambil terus
menciumi dan membelai
punggungnya. Nafsu kami semakin
menggelora. Aku ditariknya ke
tempat tidur. Bu Tadi membaringkan
dirinya. Tanganku menyusup ke buah
dadanya yang besar dan empuk,
aduuh nikmat sekali, kuelus buah
dadanya dengan lembut, kuremas
pelan-pelan. Bu Tadi menyingkapkan
dasternya ke atas, dia tidak memakai
BH. Aduh buah dadanya kelihatan
putih dan menggung. Aku nggak
tahan lagi, kuciumi, kukulum
pentilnya, kubenamkan wajahku di
kedua buah dadanya, sampai aku
nggak bisa bernapas. Sementara
tanganku merogoh kemaluannya
yang berbulu tebal. Celana dalamnya
kupelorotkan, dan Bu Tadi
meneruskan ke bawah sampai
terlepas dari kakinya. Dengan sigap
aku melepaskan sarung dan celana
www.ceritakita.hexat.com
dalamku. Penisku langsung tegang
tegak menantang. Bu Tadi segera
menggenggamnya dan dikocok-
kocok pelan dari ujung penisku ke
pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli
dan nikmat sekali. Aku sudah nggak
sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Tadi,
bertelekan pada sikut dan dengkulku.
Kaki Bu Tadi dikangkangkannya
lebar-lebar, penisku dibimbingnya
masuk ke liang vaginanya yang
sudah basah. Digesek-gesekannya di
bibir kemaluannya, makin lama
semakin basah, kepala penisku
masuk, semakin dalam, semakin…
dan akhirnya blees, masuk semuanya
ke dalam kemaluan Bu Tadi. Aku
turun-naik pelan-pelan dengan
teratur. Aduuh, nikmat sekali. Penisku
dijepit kemaluan Bu Tadi yang sempit
dan licin. Makin cepat kucoblos,
keluar-masuk, turun-naik dengan
penuh nafsu. “Aduuh, Dik Budi, Dik
Budii… enaak sekali, yang cepaat..
teruus”, bisik Bu Tadi sambil
mendesis-desis. Kupercepat lagi.
Suaranya vagina Bu Tadi kecepak-
kecepok, menambah semangatku.
“Dik Budiii aku mau muncaak…
muncaak, teruus… teruus”, Aku juga
sudah mau keluar. Aku percepat, dan
penisku merasa akan keluar.
Kubenamkan dalam-dalam ke dalam
vagina Bu Tadi sampai amblaas.
Pangkal penisku berdenyut-denyut,
spermaku muncrat-muncrat di dalam
vagina Bu Tadi. Kami berangkulan
kuat-kuat, napas kami berhenti.
Saking nikmatnya dalam beberapa
detik nyawaku melayang entah
kemana. Selesailah sudah.
Kerinduanku tercurah sudah, aku
merasa lemas sekali tetapi puas
sekali.
Kucabut penisku, dan berbaring di
sisinya. Kami berpelukan, mengatur
napas kami. Tiada kata-kata yang
terucapkan, ciuman dan belaian kami
yang berbicara.
“Dik Budi, aku curiga, salah satu dari
kami mandul. Kalau aku subur, aku
harap aku bisa hamil dari spermamu.
Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang
tahu bapaknya anakku kan hanya
aku sendiri kan. Dengan siapa aku
membuat anak”, katanya sambil
mencubitku. Malam itu pertama kali
aku menyetubuhi Bu Tadi tetanggaku.
Beberapa kali kami berhubungan
sampai aku kimpoi dengan wanita
lain. Bu Tadi walaupun cemburu tapi
dapat memakluminya.
Keluarga Pak tadi sampai saat ini
hanya mempunyai satu anak
perempuan yang cantik. Apabila di
kedepankan, Bu Tadi sering menciumi
anak itu, sementara matanya
melirikku dan tersenyum-senyum
manis. Tetanggaku pada meledek Bu
Tadi, mungkin waktu hamil Bu Tadi
benci sekali sama aku. Karena
anaknya yang cantik itu mempunyai
mata, pipi, hidung, dan bibir yang
persis seperti mata, pipi, hidung, dan
bibirku.
Seperti telah anda ketahui
hubunganku dengan Bu Tadi istri
tetanggaku yang cantik itu tetap
berlanjut sampai kini, walaupun aku
telah berumah tangga. Namun dalam
perkimpoianku yang sudah berjalan
dua tahun lebih, kami belum
dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-
hamil juga walaupun penisku
kutojoskan ke vagina istriku siang
malam dengan penuh semangat.
Kebetulan istriku juga mempunyai
nafsu seks yang besar. Baru disentuh
saja nafsunya sudah naik. Biasanya
dia lalu melorotkan celana dalamnya,
menyingkap pakaian serta
mengangkangkan pahanya agar
vaginanya yang tebal bulunya itu
segera digarap. Di mana saja, di kursi
tamu, di dapur, di kamar mandi,
apalagi di tempat tidur, kalau sudah
nafsu, ya aku masukkan saja penisku
ke vaginanya. Istriku juga dengan
penuh gairah menerima coblosanku.
Aku sendiri terus terang setiap saat
melihat istriku selalu nafsu saja deh.
Memang istriku benar-benar
membuat hidupku penuh semangat
dan gairah.
Tetapi karena istriku tidak hamil-
hamil juga aku jadi agak kawatir.
Kalau mandul, jelas aku tidak. Karena
sudah terbukti Bu Tadi hamil, dan
anakku yang cantik itu sekarang
menjadi anak kesayangan keluarga
Pak Tadi. Apakah istriku yang
mandul? Kalau melihat fisik serta
haidnya yang teratur, aku yakin
istriku subur juga. Apakah aku kena
hukuman karena aku selingkuh
dengan Bu Tadi? aah, mosok. Nggak
mungkin itu. Apakah karena dosa?
Waah, mestinya ya memang dosa
besar. Tapi karena menyetubuhi Bu
Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia
juga senang, maka hubungan gelap
itu perlu diteruskan, dipelihara, dan
dilestarikan.
Untuk mengatur perselingkuhanku
dengan Bu Tadi, kami sepakat
dengan membuat kode khusus yang
hanya diketahui kami berdua. Apabila
Pak Tadi tidak ada di rumah dan
benar-benar aman, Bu Tadi
memadamkan lampu di sumur
belakang rumahnya. Biasanya lampu
5 watt itu menyala sepanjang
malam, namun kalau pada pukul
20.00 lampu itu padam, berarti
keadaan aman dan aku dapat
mengunjungi Bu Tadi. (Anda dapat
meniru caraku yang sederhana ini.
Gratis tanpa bayar pulsa telepon
yang makin mahal). Karena dari
samping rumahku dapat terlihat
belakang rumah Bu Tadi, dengan
mudah aku dapat menangkap tanda
tersebut. Tetapi pernah tanda itu
tidak ada sampai 1 atau 2 bulan,
bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang
jadi agak jengkel dan frustasi
(karena kangen) dan aku mengira
juga Bu Tadi sudah bosan denganku.
Tetapi ternyata memang kesempatan
itu benar-benar tidak ada, sehingga
tidak aman untuk bertemu.
Pada suatu hari aku berpapasan
dengan Bu Tadi di jalan dan seperti
biasanya kami saling menyapa baik-
baik. Sebelum melanjutkan
perjalanannya, dia berkata, “Dik Budi,
besok malam minggu ada keperluan
nggak?”
“Kayaknya sih nggak ada acara
kemana-mana. Emangnya ada apa?”
jawabku dengan penuh harapan
karena sudah hampir satu bulan kami
tidak bermesraan.
“Nanti ke rumah yaa!” katanya
dengan tersenyum malu-malu.
“Emangnya Pak Tadi nggak ada?”
kataku. Dia tidak menjawab, cuma
tersenyum manis dan pergi
meneruskan perjalanannya.
Walaupun sudah biasa, darahku pun
berdesir juga membayangkan
pertemuanku malam minggu nanti.
Seperti biasa malam minggu adalah
giliran ronda malamku. Istriku sudah
tahu itu, sehingga tidak menaruh
curiga atau bertanya apa-apa kalau
pergi keluar malam itu. Aku sudah
bersiap untuk menemui Bu Tadi. Aku
hanya memakai sarung, (tidak
memakai celana dalam) dan kaos
lengan panjang biar agak hangat.
Dan memang kalau tidur aku tidak
pernah pakai celana dalam tetapi
hanya memakai sarung saja.
Rasanya lebih rileks dan tidak
sumpek, serta penisnya biar
mendapat udara yang cukup setelah
seharian dipepes dalam celana dalam
yang ketat.
Waktu menunjukkan pukul 22.00.
Lampu belakang rumah Bu Tadi
sudah padam dari tadi. Aku berjalan
memutar dulu untuk melihat situasi
apakah sudah benar-benar sepi dan
aman. Setelah yakin aman, aku
menuju ke samping rumah Bu Tadi.
Aku ketok kaca nako kamarnya.
Tanpa menunggu jawaban, aku
langsung menuju ke pintu belakang.
Tidak berapa lama terdengar kunci
dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku
masuk ke dalam. Pintu ditutup
kembali. Aku berjalan beriringan
mengikuti Bu Tadi masuk ke kamar
tidurnya. Setelah pintu ditutup
kembali, kami langsung berpelukan
dan berciuman untuk menyalurkan
kerinduan kami. Kami sangat
menikmati kemesraan itu, karena
memang sudah hampir satu bulan
kami tidak mempunyai kesempatan
untuk melakukannya. Setelah itu, Bu
Tadi mendorongku, tangannya di
pinggangku, dan tanganku berada di
pundaknya. Kami berpandangan
mesra, Bu tadi tersenyum manis dan
memelukku kembali erat-erat.
Kepalanya disandarkan di dadaku.
“Paa, sudah lama kita nggak begini”,
katanya lirih. Bu Tadi sekarang kalau
sedang bermesraan atau bersetubuh
memanggilku Papa. Demikian juga
aku selalu membisikkan dan
menyebutnya Mama kepadanya.
Nampaknya Bu Tadi menghayati
betul bahwa Nia, anaknya yang
cantik itu bikinan kami berdua.
“Pak Tadi sedang kemana sih maa”,
tanyaku.
“Sedang mengikuti piknik karyawan
ke Pangandaran. Aku sengaja nggak
ikut dan hanya Nia saja yang ikut.
Tenang saja, pulangnya baru besok
sore”, katanya sambil terus
mendekapku.
“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku
sambil duduk bersanding di tempat
tidur. Bu Tadi diam saja dan
memandangku penuh tanda tanya.
“Maa, sudah dua tahun lebih aku
berumah tangga, tetapi istriku belum
hamil-hamil juga. Kamu tahu,
mustinya secara fisik, kami tidak ada
masalah. Aku jelas bisa bikin anak,
buktinya sudah ada kan. Aku nggak
tahu kenapa kok belum jadi juga.
Padahal bikinnya tidak pernah
berhenti, siang malam”, kataku agak
melucu. Bu Tadi memandangku.
“Pa, aku harus berbuat apa untuk
membantumu. Kalau aku hamil lagi,
aku yakin suamiku tidak akan
mengijinkan adiknya Nia kamu minta
menjadi anak angkatmu. Toh anak
kami kan baru dua orang nantinya,
dan pasti suamiku akan sayang
sekali. Untukku sih memang
seharusnya bapaknya sendiri yang
mengurusnya. Tidak seperti sekarang,
keenakan dia. Cuma bikin doang,
giliran sudah jadi bocah orang lain
dong yang ngurus”, katanya sambil
merenggut manja. Aku tersenyum
kecut.
“Jangan-jangan ini hukuman buatku
ya maa, Aku dihukum tidak punya
anak sendiri. Biar tahu rasa”, kataku.
“Ya sabar dulu deh paa, mungkin
belum pas saja. Spermamu belum
pas ketemu sama telornya Rina
(nama istriku). Siapa tahu bulan
depan berhasil”, katanya
menghiburku.
“Ya mudah-mudahan. Tolong didoain
yaa…”
“Enak saja. Didoain? Mustinya aku
kan nggak rela Papa menyetubuhi
Rina istrimu itu. Mustinya Papa kan
punyaku sendiri, aku monopoli.
Nggak boleh punya Papa masuk ke
perempuan lain kan. Kok malah
minta didoain. Gimana siih”, katanya
manja dan sambil memelukku erat-
erat. Benar juga, mestinya kami ini
jadi suami-istri, dan Nia itu anak
kami.
“Maa, kalau kita ngomong-ngomong
seperti ini, jadinya nafsunya malah
jadi menurun lho. Jangan-jangan
nggak jadi main nih”, kataku
menggoda.
“Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit
pahaku kuat-kuat.
“Makanya jangan ngomong saja.
Segera saja Mama ini diperlakukan
sebagaimana mestinya. Segera
digarap doong!” katanya manja.
Kami berpelukan dan berciuman lagi.
Tentu saja kami tidak puas hanya
berciuman dan berpelukan saja.
Kutidurkan dia di tempat tidur,
kutelentangkan. Bu Tadi mandah
saja. Pasrah saja mau diapain. Dia
memakai daster dengan kancing
yang berderet dari atas ke bawah.
Kubuka kancing dasternya satu per
satu mulai dari dada terus ke bawah.
Kusibakkan ke kanan dan ke kiri
bajunya yang sudah lepas
kancingnya itu. Menyembullah buah
dadanya yang putih menggunung
(dia sudah tidak pakai BH). Celana
dalam warna putih yang menutupi
vaginanya yang nyempluk itu aku
pelorotkan. Aku benar-benar
menikmati keindahan tubuh istri
gelapku ini. Saat satu kakinya
ditekuk untuk melepaskan celana
dalamnya, gerakan kakinya yang
indah, vaginanya yang agak terbuka,
aduh pemandangan itu sungguh
indah. Benar-benar membuatku
menelan ludah. Wajah yang ayu,
buah dada yang putih menggunung,
perut yang langsing, vagina yang
nyempluk dan agak terbuka, kaki
yang indah agak mengangkang,
sungguh mempesona. Aku tidak
tahan lagi. Aku lempar sarungku dan
kaosku entah jatuh dimana. Aku
segera naik di atas tubuh Bu Tadi.
Kugumuli dia dengan penuh nafsu.
Aku tidak peduli Bu Tadi megap-
megap keberatan aku tindih
sepenuhnya. Habis gemes banget,
nafsu banget sih.
“Uugh jangan nekad tho. Berat nih”,
keluh Bu Tadi.
Aku bertelekan pada telapak
tanganku dan dengkulku. Penisku
yang sudah tegang banget aku
paskan ke vaginanya. Terampil
tangan Bu Tadi memegangnya dan
dituntunnya ke lubang vaginanya
yang sudah basah. Tidak ada
kesulitan lagi, masuklah semuanya
ke dalam vaginanya. Dengan penuh
semangat kukocok vagina Bu Tadi
dengan penisku. Bu Tadi semakin
naik, menggeliat dan merangkulku,
melenguh dan merintih. Semakin
lama semakin cepat, semakin naik,
naik, naik ke puncak.
“Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…”
bisik Bu Tadi
“Maa, aku juga sudah mau…
keluaarr”,
“Yang dalam paa… yang dalamm.
Keluarin di dalaam Paa… Paa…
Adduuh Paa nikmat banget Paa…,
ouuch..”, jeritnya lirih yang
merangkulku kuat-kuat. Kutekan
dalam-dalam penisku ke
vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut,
keluarlah spermaku di dalam rahim
istri gelapku ini. Napasku seperti
terputus. Kenikmatan luar biasa
menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Tadi
menggigit pundakku. Dia juga sudah
mencapai puncak. Beberapa detik dia
aku tindih dan dia merangkul kuat-
kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas.
Kuangkat tubuhku. Penisku masih di
dalam, aku gerakkan pelan-pelan,
aduh geli dan ngilu sekali sampai
tulang sumsum. Vaginanya licin sekali
penuh spermaku. Kucabut penisku
dan aku terguling di samping Bu Tadi.
Bu Tadi miring menghadapku dan
tangannya diletakkan di atas perutku.
Dia berbisik, “Paa, Nia sudah cukup
besar untuk punya adik. Mudah-
mudahan kali ini langsung jadi ya
paa. Aku ingin dia seorang laki-laki.
Sebelum Papa tadi mengeluh Rina
belum hamil, aku memang sudah
berniat untuk membuatkan Nia
seorang adik. Sekalian untuk test
apakah Papa masih joos apa tidak.
Kalau aku hamil lagi berarti Papa
masih joosss. Kalau nanti pengin
menggendong anak, ya gendong saja
Nia sama adiknya yang baru saja
dibuat ini.” Dia tersenyum manis. Aku
diam saja. menerawang jauh,
alangkah nikmatnya bisa
menggendong anak-anakku.
Malam itu aku bersetubuh lagi.
Sungguh penuh cinta kasih, penuh
kemesraan. Kami tuntaskan
kerinduan dan cinta kasih kami
malam itu. Dan aku menunggu
dengan harap-harap cemas, jadikah
anakku yang kedua di rahim istri
gelapku ini?
1 | 2 | 48938
BACK




Home |  Lucah | Lawak | Gallery
Cerita-XXX
Thai Stories


© 2009 - 2013 CeritaKita-x.Sextgem.com
Cerita mesum dan Artikel seks
Log in
Sign up
Subscribe
Featured feeds