watch sexy videos at nza-vids!

Situs Cerita Sex Dewasa




Cerita Dewasa Panas
www.ceritakita.hexat.com

Wali Kelas

Cerita dewasa kali ini adalah tentang
kisah percintaanku dengan wali kelas
anakku yang masih berada di
sekolah dasar, awalnya perasaan ini
cuma biasa saja namun entah
kenapa seiring waktu berlalu kisah
percintaan ini semakin lama semakin
dalam.
Sebagai seorang kepala rumah
tangga yang memiliki seorang anak
laki-laki yang telah memasuki ke
ajang pendidikan tentunya sangat
membahagiakan. Ini terjadi
denganku dikala anakku yang
bernama Jerry telah memasuki SD
kelas 1. Setelah istriku meninggal
dunia karena terkena penyakit
kanker payudara, akulah satu-
satunya yang mesti mengurusi
anakku, Jerry. Secara jujur,
kehidupanku sangat menyedihkan
dibandingkan sebelum istriku
meninggal. Sekarang semuanya
kulakukan sendiri seperti mengajari
anakku mengerjakan PR-nya,
memasak yang tentunya bercampur
dengan kesibukanku di kantor
sebagai salah satu orang terpenting
di perusahaan Jepang yang
berdomisili di Jakarta.
Kadang-kadang aku menjadi bingung
sendiri karena bagaimanapun
masakanku tidak sesempurna istriku
dan untunglah Jerry, anakku satu-
satunya tidak pernah mengkritik hasil
masakanku walaupun aku tahu
bahwa semua hasil masakanku tidak
bisa dimakan karena kadang-kadang
terlalu asin dan kadang-kadang
gosong. Suatu hari Jerry
memberitahuku bahwa aku mesti
datang ke sekolahnya karena
gurunya ingin bertemu denganku.
Pada hari yang sudah ditentukan, aku
pergi ke sekolah anakku untuk
bertemu Ibu Diana dan sewaktu aku
bertemu dengannya, aku menjadi
cukup gugup dan untunglah perasaan
itu dapat kukuasai karena
bagaimanapun aku pergi dengan
anakku dan aku tidak ingin anakku
membaca kegugupanku itu. Akhirnya
aku dipersilakan duduk oleh ibu guru
yang ternyata belum menikah itu
karena aku tidak melihat cincin
kawin di jarinya dan juga dia
mengaku sendiri bahwa dia masih
single ketika kupanggil dia dengan
sebutan Ibu Diana. Didalam
percakapan itu, dia menceritakan
mengenai pelajaran Jerry yang agak
tertinggal dengan murid-murid
lainnya. Ternyata baru ketahuan dari
pengakuan Jerry, bahwa walaupun
dia rajin mengerjakan PR tetapi dia
tidak pernah mengulang
pelajarannya karena waktunya
dihabiskan untuk bermain Play
Station yang kubelikan untuknya
sehari setelah kepergian istriku
supaya dia tidak menangis lagi.
Akhirnya diperoleh kesepakatan
bahwa Ibu Diana akan memberikan
anakku les privat dan setelah kami
sama-sama sepakat mengenai harga
perjamnya, kami bersalaman dan
meninggalkan sekolah itu. Selama
perjalanan ke rumah, aku selalu
teringat dengan wajah imut guru
muda anakku itu.
Sore harinya setelah aku tidur sore,
aku teringat bahwa 1 jam mendatang
guru anakku akan datang dan berarti
aku juga harus bersiap-siap untuk
menyambutnya. Setelah guru Jerry
datang dan aku mengajaknya
ngobrol untuk beberapa saat, dia
kemudian minta izin untuk memulai
les privat untuk anakku. Aku hanya
mengangguk dan meninggalkan
mereka berdua. Aku mulai membaca
koran Kompas hari itu dan aku sekali-
kali mencuri pandang pada guru
anakku yang sedang mengajari Jerry.
Kulihat bahwa Ibu Diana ini cukup
pengertian dalam mengajari anakku
yang kadang-kadang masih cukup
bingung akan materi yang
dipelajarinya.
Dua jam berlalu sudah dan kusadari
bahwa jam privat les sudah usai dan
ketika dia hendak pulang ke
rumahnya, aku menawarkan
kepadanya untuk mengantarkannya
berhubung hari sudah malam dan
aku tahu persis bahwa tidak ada lagi
kendaraan umum pada jam-jam
begitu di sekitar rumahku. Akhirnya
aku mengeluarkan mobil BMW
kesayanganku dan setelah aku
bersiap-siap, aku menyuruh Jerry
untuk mengulang pelajaran yang tadi
sementara aku akan mengantarkan
gurunya pulang. Jerry menuruti
ucapan ayahnya dan tanpa basa basi,
dia mulai membuka kembali bukunya
dan mengulang materi yang baru
saja dipelajarinya.
Aku kemudian mulai menyuruh Ibu
Diana untuk masuk dan kemudian
aku memulai mengendarai mobil itu
setelah aku menutup pintu gerbang
tentunya karena aku tidak
mempunyai pembantu rumah tangga
saat itu. Di tengah perjalanan, kami
bercakap-cakap mengenai segala hal
dan mengenai perubahan yang
dialami Jerry setelah ibunya
meninggal dunia. Nampaknya Ibu
Diana serius sekali mendengarkan
curahan hatiku yang kesepian setelah
ditinggal oleh istriku.
Tiba-tiba ketika kami sedang asyik
bercakap-cakap, aku melihat sekilas
seorang anak kecil yang sedang lari
menyeberang sehingga dengan
secepat kilat, aku langsung
mengerem secara mendadak dan
disaat aku mengerem mendadak itu,
karena Ibu Diana lupa tidak memakai
“Seatbelt”, dia langsung jatuh
kedalam pelukanku. Dia nampaknya
malu sekali setelah kejadian itu
tetapi setelah aku bilang tidak apa-
apa, dia kembali seperti sediakala
dan sekarang kami nampaknya
semakin akrab dan aku menjadi
sangat kaget dikala dia minta tolong
untuk pergi ke motel terdekat karena
dia ingin buang air dengan alasan
bahwa rumahnya masih sangat jauh.
Aku melihat ekspresi wajahnya
seperti orang yang menahan sesuatu
sehingga akhirnya aku menyetujui
untuk pergi ke motel terdekat untuk
menyelesaikan ‘bisnis’nya.
Akhirnya kami berada di dalam
sebuah motel murah yang tidak jauh
dari tempat aku mengerem
mendadak tadi. Setelah berada di
dalam kamar, aku langsung duduk di
tepi ranjang sementara Ibu Diana
dengan kecepatan yang luar biasa
langsung pergi ke arah toilet yang
berada di dalam kamar motel itu.
Beberapa menit kemudian, aku
dikagetkan oleh Ibu Diana yang
keluar dari dalam toilet dengan
mendadak.
“Bu.. ada apa?” aku mendadak gugup
bercampur kepingin melihat tubuh
Ibu Diana yang sangat indah itu. Tapi
tiba-tiba Diana menarikku dan
langsung mencium bibirku. Sepertinya
aku mau meledak! Ibu Diana yang
tingginya 172 cm, rambut panjang
dan tubuhnya sempurna sekali,
padat, keras, sedikit berotot perut,
pokoknya seksi sekali. Diana
menuntun tanganku ke dadanya.
Disuruhnya aku meremas-remas
dadanya. Belakangan kuketahui
ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri
melepas bajunya dengan senyumnya
yang menggoda sekali. Aku hanya
diam terpaku melihat caranya
melepas pakaian dengan pelan-pelan
dengan gaya yang menggairahkan
sambil menggoyang pinggulnya.
Kemudian terlihatlah semua bagian
tubuhnya yang biasanya
tersembunyi. Dadanya yang montok
kencang menggantung-gantung, bulu
kemaluannya yang tipis rapi,
tubuhnya yang putih mulus sangat
menggairahkan. Batang
kejantananku juga sudah membesar
mengeras lebih dari biasanya. Lalu
Diana kembali merapatkan tubuhnya
ke arahku, ditempelkannya mulutnya
ke kupingku, menjilatinya dan
berbisik kepadaku, “Kamu akan
merasakan seperti di surga.” Tapi aku
masih berusaha menghindar
walaupun sebenarnya aku mau kalau
tidak pemalu.
“Nanti kalau teman-teman datang
bagaimana?”
“Tenang saja saya sudah bilang mau
tidur sebentar di sini dan jangan
diganggu.”
Gile sudah direncanaka!
Tanpa kusadari kemejaku sudah
lepas (ke mana-mana aku biasa
memakai kemeja lengan pendek)
Diana menjilati perutku dan terus ke
bawah. Aku masih diam ketakutan.
Sampai akhirnya dia membuka
celana dalamku. “Wah, ini akan
hebat sekali. Begitu besar, keras.
Belum pernah aku melihat seperti ini
di film porno.”
Diana mulai mengisap-isap batang
kemaluanku (baru-baru ini aku tahu
namanya disepong karena almarhum
istriku tidak pernah melakukannya).
“Aaarghh.. argh..” aku baru sekali
senikmat itu. “Kamu mulai bergairah
kan, Sayang?” Baru kali itu dia
memanggilku sayang. Aku benar-
benar bergairah sekarang. Kuangkat
tubuhnya ke kasur kujilati liang
kewanitaannya yang sudah basah
itu. “Nnngghh.. ngghh.. aahh.. ahh”
Diana mulai mengerang-ngerang. Tapi
itu membuatku makin bergairah.
Kuhisapi puting susunya yang
berwarna pink. “Aahh.. yeahh.. Tak
kusangka kamu agresif sekali.”
Kumasukkan jariku ke liang
senggamanya. Kusodok-sodok makin
lama makin cepat. Diana hanya bisa
mengerang, mendesah-desah. “Ricky,
cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat,
Diana udah nggak tahan.. ahh.. Tapi
pelan-pelan, Diana masih perawan.”
Waktu itu aku tidak memikirkan dia
perawan atau tidak. Aku hanya
memasukkan batang kemaluanku
dengan pelan-pelan, sempit sekali.
Benar-benar masih perawan, kupikir.
Liang kewanitaannya begitu ketat
menjepit batang kejantananku.
Sampai akhirnya batang kemaluanku
yang panjangnya 20 cm dan
diameternya 3,8 cm amblas semua.
“Aaakkhh..” lagi-lagi teriakannya
membuatku bersemangat sekali.
Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-
kencangnya. “Ngghh.. Rickk.. gede
banget.. aangghh.. indah sekali
rasanya.”
Kemudian kami mengganti posisi
nungging. “Plok.. plok.. plok..” suara
waktu aku sedang menggenjotnya
dari belakang. Dadanya berayun-
ayun. Diana kadang meremasnya
sendiri. “Aahh.. lagi.. lebih cepat..
Aaahh.. Diana udah keluar.. Kamu
keluarin di luar, ya!” Tidak lama
kemudian akupun keluar juga.
Kusemprot maniku ke sekujur tubuh
Diana yang lemas tak berdaya.
Dijilatinya lagi batang kenikmatanku
sampai lama sekali sampai-sampai
keluar lagi. Dengan nafas masih
memburu terengah-engah, Diana
memakai pakaiannya kembali.
“Kamu hebat sekali Rick. Diana puas
sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh
hati kepadamu pada pandangan
pertama.” Kemudian sebelum keluar
kamar Diana kembali mencium
bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi,
kucium dia sambil kupegang
payudaranya.
Setelah kenikmatan bersama itu,
kami berpelukan untuk beberapa
menit dan kami berciuman lagi untuk
beberapa lama. Sejujurnya aku
sudah jatuh hati kepada guru anakku
sejak pertama kali bertemu dan
sekarang baru kusadari bahwa dia
juga telah jatuh hati kepadaku.
Setelah itu aku kemudian berkata
kepadanya, “Diana, aku ingin kamu
menjadi kekasihku yang bersedia
mengajari Jerry..” Belum selesai aku
menyelesaikan kata-kataku, Diana
langsung menciumku dan aku
membalasnya dengan penuh
kemesraan dan tentunya berbeda
dengan perlakuan kami yang baru
saja terjadi.
Setelah kami berciuman untuk
beberapa menit, Diana langsung
berkata kepadaku, “Ricky, aku juga
ingin memiliki kekasih dan ternyata
aku sekarang menemukannya dan
aku ingin menikah denganmu dan
kita bisa bersama-sama mendidik
Jerry.” Setelah kejadian itu, Diana
sering pergi keluar bersamaku dan
Jerry.
www.ceritakita.hexat.com
1 | 1 | 3418
BACK




Home
Cerita-XXX
Cerita Stim
Cerita Erotis
Sumber Cerita
Thai Stories


© 2009 - 2014 CeritaKita-X
Cerita mesum dan Artikel seks