watch sexy videos at nza-vids!

Situs Cerita Sex Dewasa




Servis Plus SPG Susu

Pagi itu aku harus Berangkat kerja
lebih pagi karena pekerjaan kantor
yang menumpuk. Ditengah jalan tiba-
tiba hujan turun dengan derasnya.
Akhirnya aku berteduh di warteg
terdekat.
“Wah.. wah.. sialan, kok malah
hujan.. numpang teduh ya Bu,” entah
sial apa pagi itu, hujan mendadak
turun tanpa mendung, aku pun
terpaksa menghentikan laju sepeda
motorku dan segera berteduh
disebuah warung pinggir jalan.
“Ndak apa Dik, memang hujannya
deras, kalau diteruskan nanti basah
semua bajunya,” jawab pemilik
warung, ibu berusia baya seumur
ibuku.
“Saya pesan kopi susunya Bu, jangan
banyak-banyak gulanya ya,” pintaku
setelah mengambil duduk dalam
warung itu. Sambil menunggu
pesananku, kuamati pemandangan
sekeliling warung itu.
Warung tempat kuberteduh terlihat
sangat rapi dan bersih, walaupun
ukurannya kecil. Sungguh, aku baru
kali itu singgah disana, meskipun
sehari-hari kerab melintasi jalan di
depannya. Pagi itu, ada tiga orang
yang turut berteduh sambil sarapan,
kelihatannya mereka itu sopir dan
kenek angkot yang pangkalannya
tak seberapa jauh dari warung itu.
Belum lagi kopi susu yang kupesan
tiba dihadapanku, kulihat dua wanita
muda masuk ke warung.
“Uhh, gila hujannya ya Fin.., untung
sudah sampai sini,” kata yang
berbadan agak gemuk pada temanya
yang lebih langsing. Dari penampilan
mereka aku bisa menebak kalau
mereka adalah sales promotion girl
(SPG), dibelakang baju kaos yang
mereka pakai ada sablonan bertulis
Susu Siip (sengaja disamarkan),
produk susu baru buatan lokal.
Keduanya langsung duduk dibangku
panjang tepat di depanku.
“Ini Dik kopi susunya, apa nggak
sekalian pesan sarapan Dik?” ibu
pemilik warung membawakan
pesananku.
“Makasih Bu, ini saja cukup. Saya
sudah sarapan kok,” jawabku, Ibu itu
pun berlalu, setelah sempat
menawarkan menu pada dua wanita
muda dihadapanku.
“Hm maaf Mas, apa tidak mau coba
susu kami?” sebuah suara wanita
mengejutkan aku. Hampir saja aku
tersedak kopi yang sedang kuseruput
dari cangkirnya, sebagian kopi malah
tumpah mengotori lengan bajuku.
“Duh maaf, kaget ya Mas. Tuh jadi
kotor bajunya,” wanita yang agak
gemuk menyodorkan tisue kepadaku.
“Ohh, nggak apa Mbak, makasih ya,”
kuterima tisue pemberiannya dan
membersihkan lengan bajuku.
“Maaf, susu apa maksud Mbak?” aku
bertanya.
“Hik.. Hik.. Mas ini rupanya kaget
dengar susu kita Fin,” canda sigemuk,
si langsing tersenyum saja.
“Ini loh Mas, susu siip. Susu baru
buatan lokal tapi oke punya.
Harganya murah kok, masih promosi
Mas, ada hadiahnya kalau beli
banyak,” si langsing menjelaskan, ia
juga menerangkan harga dan
hadiahnya.
Sebenarnya aku ingin lebih lama
diwarung itu supaya bisa lebih lama
bersama dua wanita SPG susu itu,
tapi nampaknya hujan sudah mulai
berhenti dan aku harus melanjutkan
perjalanan karena waktunya sudah
mepet & Pekerjaan dikantor masih
menunggu tuk diselesaikan.
“Saya tertarik Mbak, tapi kayaknya
saya harus lanjutkan perjalanan nih,
tuh hujannya sudah berhenti. Emm,
gimana kalau saya kasih alamat
saya, ini kartu nama saya dan kalau
boleh Mbak berdua tulis namanya
disini ya,” kusodorkan selembar kartu
namaku sekaligus meminta mereka
menulis namanya dibuku saku yang
kubawa.
“Oh Mas Andy toh namanya. Pulang
kerjanya jam berapa Mas biar bisa
ketemu nanti kalau kami
kerumahnya,” si gemuk yang
ternyata bernama Lina bertanya
sambil senyum-senyum padaku.
“Jam empat sore juga saya sudah
dirumah kok. Mbak Lina dan Mbak
Wati boleh kesana sekitar jam itu,
saya tunggu ya,” jawabku. Wati yang
langsing juga tersenyum.
Aku kemudian membayar kopi susu
pesananku dan meninggalkan
warung, untuk segera menuju ke
kantor.
Jam 3 sore aku sudah menyelesaikan
laporanku yang menumpuk, dan aku
langsung pulang kekontrakanku. Oh
ya umurku saat itu sudah menginjak
28 tahun, aku coba mandiri merantau
dikota kembang ini. Kuputar lagu-lagu
melankolisnya Katon Bagaskara di
VCD Player sambil kunikmati
berbaring dikasur kamarku. Foto Lusi
kupandangi, pacarku itu sudah tiga
minggu ini pindah ke Jakarta,
bersama pindah tugas bapaknya
yang tentara. Kayaknya sulit
melanjutkan tali kasih kami, apalagi
jarak kami sekarang jauh. Dan
sepertinya ini takdirku, berkali-kali
gagal kawin gara-gara terpisah tiba-
tiba, jadi jomblo sampai umur segitu.
Membayangkan kenangan manis
bersama Lusi, aku akhirnya lelap
tertidur ditemani tembang manis
Katon. Sampai akhirnya gedoran
pintu kontrakan membangunkanku.
Astaga sudah jam setengah 5 sore,
aku segera membukakan pintu
utama kontrakanku untuk melihat
siapa yang datang.
“Sore Mas Andy, duh baru bangun
ya? Maaf ya mengganggu lagi,”
ternyata yang datang Lina dan Wati,
SPG Susu yang kujumpai pagi tadi.
“Oh Mbak Lina dan Mbak Wati.., saya
pikir nggak jadi datang. Silahkan
masuk yuk, saya basuh muka
sebentar ya,” kupersilahkan mereka
masuk dan aku kekamar mandi
membasuh mukaku.
Sore itu Lina dan Wati tidak lagi
menggunakan seragam SPG, mereka
pakai casual. Lina walau agak gendut
jadi terlihat seksi mengenakan jeans
ketat dipadu kaos merah ketat pula,
sedangkan Wati yang langsing
semakin asyik pakai rok span mini
dipadu kaos kuning ketat.
Rumah kontrakanku type 36, jadi
hanya ada ruang tamu dan kamar
tidur yang ukurannya kecil,
selebihnya dapur dan kamar mandi
juga sangat mini dibagian belakang.
Setelah basuh muka, aku menemani
mereka duduk di ruang tamu.
“Wah ternyata Mas Andy ini Kerja di
Farmasi ya, boleh dong kapan-kapan
kita di jelasin masalah obat Mas?”
Lina buka bicara saat aku duduk
bersama mereka.
“Tentu boleh, kapan Mbak mau
datang aja kesini,” jawabku.
Selanjutnya kami kembali bicara
masalah produk susu yang mereka
pasarkan. Bergantian bicara, Lina dan
Wati menjelaskan kalau susu yang
mereka jual ada beberapa macam
dengan kegunaan yang beragam.
Ada susu untuk ibu hamil, ibu
menyusui, anak-anak usia sekolah,
balita, bayi, orangtua, pertumbuhan
remaja, sampai susu greng untuk
menambah vitalitas pria. Nah, untuk
susu penambah vitalitas pria itu,
bicara mereka sudah berani agak
porno dan mesum, membuat aku
blingsatan mendengarnya.
“Hmm, boleh-boleh.. Saya ambil susu
grengnya dua mbak, nanti kalau
bagus saya tambah lagi lain kali,” aku
memotong bicara mereka yang
semakin ngawur.
http://ceritakita.hexat.com
“Nah gitu dong Mas, biar istri Mas
senang kalau suaminya greng,” Wati
kembali bercanda.
“Duh.. Mbak, saya belum kawin nih.
Maksud saya susu greng itu saya
pakai buat kerja, supaya tetap fit
kalau kerja,” kataku. Jawabanku itu
membuat mereka saling pandang,
lalu keduanya tertawa sendiri.
“Wah kita kira Mas sudah punya istri,
ternyata masih bujang. Kok ganteng-
ganteng belum laku sih?” Lina
menggoda.Suasana terasa langsung
akrab bersama dua SPG susu itu.
Mereka pun menceritakan latar
belakang mereka tanpa malu
kepadaku. Lina, wanita berumur 26
tahun, dulunya karyawati sebuah
bank, lalu berhenti karena dinikahi
rekan sekerjanya. Tapi kini dia janda
tanpa anak sejak suaminya sakit dan
meninggal, tiga tahun lalu.
Sedangkan Wati, bernasib sama.
Wanita 24 tahun itu, pernah menikah
dengan lelaki sekampungnya, tetapi
kemudian jadi janda gantung sejak
suaminya jadi TKI dan tak ada
kabarnya sejak 4 tahun lalu.
Keduanya terpaksa menjadi SPG
untuk menghidupi diri.
“Kami malu Mas, sudah kawin masih
bergantung pada orangtua, makanya
kami kerja begini,” kata Wati.
“Kalau Mas mau, gimana kalau saya
seduhkan susu greng itu. Sekedar
coba Mas, siapa tahu Mas jadi pingin
beli lebih banyak?” Lina
menawarkanku setelah obrolan kami
semakin akrab.Belum sempat
kujawab dia sudah bangkit dan
menanyakan dimana letak dapur, ia
pun menyeduhkan secangkir susu
greng buatku. Susu buatan Lina itu
kucicipi, lalu kuteguk habis, kemudian
kembali ngobrol dengan mereka.
Saat itu jam menunjuk angka tujuh
malam. Lima belas menit setelah
meneguk susu buatan Lina, aku
merasakan dadaku bergemuruh dan
panas sekujur tubuh, agak pusing
juga.
“Ohh.. Kok saya pusing jadinya
Mbak? Kenapa ya? Ahh..,” aku
meremasi rambutku sambil bersandar
di kursi bambu.
“Agak pusing ya Mas, itu memang
reaksinya kalau pertama minum Mas.
Mana coba saya pijitin lehernya,”
Wati pindah duduk kesampingku
sambil memijiti tengkuk leherku,
agak enakan rasanya setelah jemari
lentik Wati memijatiku.
“Nah, biar lebih cepat sembuh saya
juga bantu pijit ya,” Lina pun bangkit
dan duduk disampingku, posisiku jadi
berada ditengah keduanya. Tapi,
astaga, Lina bukannya memijit
leherku malah menjamah celana
depanku dan memijiti penisku yang
mendadak tegang dibalik celana.
“Ahh Mbaak.., mmfphh.. Ehmm,”
belum selesai kalimat dari bibirku,
bibir Wati segera menyumpal dan
melumat bibirku. Gila pikirku, aku
hendak menahan aksi mereka tapi
aku pun terlanjur menikmati, apalagi
reaksi susu sip yang kuteguk
memang mujarab, birahiku langsung
naik. Akhirnya kubalas kuluman bibir
Wati, kusedot bibir tipisnya yang
mirip Enno Lerian itu.
“Waduh.., gede juga Andy juniornya
Mas,” ucapan Lina kudengar tanpa
melihatnya karena wajah Wati yang
berpagutan denganku menutupi. Tapi
aku tahu kalau saat itu Lina sudah
membuka resleting celanaku dan
mengeluarkan penisku yang tegang
dari celana. Sesaat setelah itu,
kurasakan benda kenyal dan basah
melumuri penisku, rupanya Lina
menjilati penisku.

“Ahh.., tidak Mbak.., jangan Mbak,”
kudorong tubuh Wati dan Lina, aku
jadi panik kalau sampai ada warga
yang melihat adegan kami.
“Ayolah Mas.. Kan sudah tanggung.
Nanti pusing lagi loh,” Lina seperti tak
puas, Wati pun menimpali.
“Maksud saya jangan kita lakukan
disini, takut kalau ketahuan Pak RT.
Kita pindah kekamar aja yah,” aku
mengajak keduanya pindah ke
kamar tidurku, setelah mengunci
pintu utama kontrakanku.Sampai di
kamarku, bagaikan balita yang akan
dimandikan ibunya, pakaianku segera
dilucuti dua SPG itu, dan mereka pun
melepasi seluruh pakaiannya. Wah
tubuh mereka nampak masih
terawat, mungkin karena lama
menjanda. Sebelum melanjutkan
permainan tadi, kuputar lagi lagu
Katon Bagaskara dengan volume
agak keras supaya suara kami tak
terdengar keluar.
Setelah itu, aku rebah dikasurku dan
Lina segera mengulangi aksinya
menjilati, menghisap penisku yang
semakin mengeras. Lina bagaikan
serigala lapar yang mendapatkan
daging kambing kesukaannya.
Sedangkan Wati berbaring disisiku
dan kami kembali berpagutan bibir,
bermain lidah dalam kecupan hangat.
Dalam posisi itu tanganku mulai aktif
meraba-raba susu Wati disampingku,
kenyal dan hangat sekali susu itu,
lebih sip sari susu sip yang mereka
jual kepadaku.
“Oh Mas, saya sudah nggak tahan
Mas,” Lina mengeluh dan melepaskan
kulumannya dipenisku.
“Ayo Lin, kamu duluan.. Tapi cepat
yahh,” Wati menyuruh Lina. Wanita
bertubuh agak gemuk itu segera
menunggangiku, menempatkan
vagina basahnya diujung penisku
Lina berposisi jongkok dan bless,
penisku menembusi vaginanya.
“Ohh.. Aaauhh.. Mass hengg,” Lina
meracau sambil menggenjot
pinggulnya naik turun dengan posisi
jongkok diatasku. Kurasakan
nikmatnya vagina Lina, apalagi lemak
pahanya ikut menjepit di
penisku.Wati yang turut terbakar
birahinya segera menumpangi
wajahku dengan posisi jongkok juga,
bibir vaginanya tepat berada
dihadapan bibirku langsung kusambut
dengan jilatan lidah dan isapan kecil.
Posisi mereka yang berhadapan
diatas tubuhku memudahkan
keduanya saling pagut bibir, sambil
pinggulnya memutar, naik turun,
menekan, diwajah dan penisku.
Lima belas menit setelah itu, Lina
mempercepat gerakannya dan
erangannya pun semakin erotis
terdengar.“Ahh Mass.., sayaa
kliimmaakss.. Ohh ammphhuunnhh,”
Lina mengejang diatasku, lalu
ambruk berbaring disamping
kananku. Melihat Lina KO, Wati
kemudian turun dari wajahku dan
segera mengambil posisi Lina, dia
mau juga memasukkan penisku ke
memeknya.“Ehh tunnggu Mbak Wati,
tunggu,” kuhentikan Wati.
Aku bangkit dan memeluknya lalu
membaringkannya dikasur, sehingga
akulah yang kini diatas tubuhnya.
“Mass.. Aku pingin seperti Lina
Masshh.. Puasin aku ya..
Meemmppffhh.. Ouhh Mass,” Wati
tersengal-sengal kuserang cumbuan,
sementara penis tegangku sudah
amblas dimekinya.
“Ohh enakhhnya memekmu Watthh..
Enakhh ughh,”
“Engh.. Genjot yang kerass Mass,
koontollmu juga ennahhkk.. Ohh
Mass,” Wati dan aku memanjat
tebing kenikmatan kami hingga dua
puluh menit, sampai akhirnya Wati
pun mengejang dalam tindihanku.
“Amphhunn Mass.. Ohh nikhhmatt
bangghett Masshh..,” Wati mengecup
dadaku dan mencakar punggungku
menahan kenikmatan yang asyik.
“Iya Watt.. Inii untukkhhmu.. Ohh..
Oohh,” aku pun menumpahkan
berliter spermaku ke dalam vagina Wati.
Setelah sama-sama puas, dua SPG
susu itu pun berlalu dari rumahku,
kutambahkan dua lembar ratusan
ribu untuk mereka. Aku pun kembali
tidur dan menghayalkan kenikmatan tadi.
Tamat




Home
Cerita-XXX
Cerita Stim
Cerita Erotis
Sumber Cerita
Thai Stories


© 2009 - 2014 CeritaKita-X
Cerita mesum dan Artikel seks