Situs Cerita Sex Dewasa




Cinta Remaja Perkenalan

Siapa yang tak kenal Andre? Si cowok populer di SMU Dwi Warna. Tinggi, ganteng, atletis, ramah, kaya namun tidak sombong. Jabatannya banyak mulai dari Ketua OSIS, Komandan Paskriba, Ketua PMR, sampai Ketua Kelas pun dia pegang. Andre jago segala jenis olah raga yang ada di sekolah. Basket dia bisa, voli juga, sepak bola apalagi, renang top, dan, belum pernah ada yang sanggup mengalahkannya di lapangan tennis. Bila ada acara pertandingan olah raga di sekolah, sudah dapat diprediksikan Andre akan jadi bintang lapangan.

Seluruh manusia di sekolah sangat membanggakannya. Para guru sangat menyayanginya. Nama SMU Dwi Warna harum dengan prestasi olah raga karena kepiawaian Andre. Kelebihan yang dimilikinya itu membuat kelemahan Andre dalam bidang akademik tertutupi. Guru-guru tak ada yang mempermasalahkan kemampuan Andre yang pas-pasan dalam pelajaran. Meskipun ia kurang menguasai matematika dan fisika, tetap saja Andre bisa duduk di kelas 3 IPA saat ini. Tidak mendidik memang, namun begitulah kenyataan yang dinikmati Andre di sekolah.

Meski suka gonta-ganti cewek di sekolah, Andre tidak pernah mendapatkan julukan playboy. Hampir semua cewek cantik di sekolah sudah pernah dipacari oleh Andre. Tidak satupun cewek mantan pacar Andre yang kecewa atau marah karena diputuskan olehnya. Meskipun keputusan Andre untuk memutuskan cewek itu karena ia punya gandengan baru di sekolah. Menjadi pacar Andre, meski hanya dalam waktu dua minggu saja sudah sangat membahagiakan cewek-cewek itu. Bila Andre bertanding olah raga, maka semua mantan pacar Andre itu akan duduk beramai-ramai di tepi lapangan memberikan dukungan padanya. Bersorak-sorai meriuhkan suasana. Jangan heran kalau di tepi lapangan akan menemukan beberapa cowok yang keki melihat aksi sorak-sorai cewek-cewek itu. Gimana enggak keki, cewek yang penuh semangat bersorak-sorai mendukung Andre, saat ini adalah pacar dari cowok yang keki itu.

Menurut informasi yang beredar di kalangan umum, saat ini yang berstatus pacar Andre adalah Cindy. Masih duduk di kelas 1 SMU Dwi Warna dan dua bulan lalu baru saja dinobatkan sebagai cover girl sebuah majalah remaja terkenal. Keesokan hari setelah malamnya dinobatkan sebagai cover girl, Cindy sah menyandang predikat cewek Andre yang ke sekian. Dasar si Andre.

Hari-hari menjelang masa kelulusan hampir tiba. Segala kesibukan kegiatan olah raga dan ekstra kurikuler lainnya dihentikan bagi siswa-siswi yang duduk di kelas 3. Tiada hari tanpa kegiatan belajar di SMU Dwi Warna. Sore hari seusai pulang sekolah, siswa-siswi kelas 3 masih harus tinggal di sekolah untuk mendapatkan bimbingan tambahan dari para guru. Tak ada waktu lagi buat Andre dapat menunjukkan kepopulerannya. Tak ada waktu bagi mantan-mantan cewek Andre untuk bersorak-sorai baginya. Tak ada waktu bagi Cindy untuk bisa memamerkan Andre pada teman-teman modelnya. Andre sibuk dengan pelajarannya. Pusing dengan kenyataan bahwa dia sangat tertinggal pada pelajaran di sekolah. Terutama pelajaran fisika.

"Ndre, kamu harus belajar lebih giat lagi nak," kata Pak Simangunsong, guru fisika Andre, suatu sore di ruangan guru, seusai bimbingan pelajaran fisika.
Cerita Gay http://ceritakita.hexat.com
"Saya perhatikan, dalam dua minggu kegiatan bimbingan ini kemampuan fisika kamu masih jauh dari rata-rata. Kalau begini terus, Bapak kuatir, kamu tidak lulus ujian nanti. "
"Mohon dibantu Pak," kata Andre pelan.
"Sebetulnya, Bapak sangat ingin membantu kamu. Semua guru yang lain Bapak yakin juga begitu. Tapi sebagaimana kamu pahami, ujian akhir itu dilangsungkan secara nasional. Tidak ada yang bisa membantumu selain dirimu sendiri nak. Karena itu kamu harus lebih giat belajar," jawab Pak Simangunsong dengan dengan logat bataknya yang kental. Matanya menatap lurus ke wajah bagus Andre.
"Apa yang harus saya lakukan Pak? Saya sudah berusaha belajar sendiri dengan giat. Buku-buku sudah saya baca semua. Tapi susah sekali saya memahami apa yang saya baca Pak,"
"Menurut Bapak, kamu harus lebih banyak belajar. Salah satunya dengan belajar bersama seorang kawan yang bisa membantu kamu memahami pelajaran,"
"Apa bisa begitu Pak?"
"Biasanya belajar bersama lebih efektif. Coba kamu ajak kawan dekat kamu belajar bersama. Kamu kan tahu siapa kawan kamu yang pintar dalam pelajaran fisika,"

Andre sibuk memikirkan siapa kawan dekatnya yang pinter dalam pelajaran fisika. Namun ia tak menemukan,
"Saya kurang tahu Pak. Selama ini saya kurang dekat bergaul dengan teman-teman yang kutu buku Pak. He.. he.. he.. Teman-teman dekat saya, ya yang biasa aktif di olah raga Pak," katanya akhirnya pada Pak Simangunsong sambil nyengir.
"Hmm, begitu ya. Kalau begitu, nanti Bapak carikan kawan yang bisa membantu kamu," tanggapan Pak Simangunsong dengan tetap penuh kewibawaan.
"Terima kasih Pak,"

Andre meninggalkan Pak Simangunsong dengan gontai. Pusing memikirkan apa yang akan terjadi bila dia tak lulus ujian. Cita-citanya untuk kuliah di Akademi Militer seusai SMU bisa kandas.

Esoknya, seusai bimbingan tambahan, Pak Simangunsong kembali memanggil Andre ke ruangan guru. Pak Simangunsong sedang berbicara dengan seorang murid, cowok, saat Andre tiba. Dari tempatnya berdiri di pintu ruang guru, Andre tidak dapat melihat siapa cowok itu, karena posisi duduknya yang memunggungi Andre.

"Eh, kamu sudah datang Ndre. Silakan duduk," Pak Simangunsong menyadari kehadiran Andre, cowok ganteng itu dipersilakannya duduk tepat di sebelah cowok yang tadi sedang berbicara dengan Pak Simangunsong.
"Ini Calvin, katanya dia pernah sekelas dengan kamu di kelas 1 dulu," Pak Simangunsong memperkenalkan cowok itu pada Andre.

Andre melirik pada cowok bernama Calvin yang sedang duduk dengan wajah menunduk itu. Meskipun sudah berusaha mengingat masa-masa ketika duduk di kelas 1 dulu, tetap saja Andre tak bisa mengingat apakah pernah berkenalan dengan cowok berkulit putih bersih dengan tubuh ramping namun atletis dan berkaca mata minus yang sedang duduk disampingnya ini. Dalam memorinya tak ada satu data pun tentang Calvin.

"Tentu saja ingat Pak, masak sama teman satu kelas tidak ingat," jawab Andre berbohong pada gurunya.

Mendengar jawaban Andre, perlahan-lahan Calvin mengangkat wajahnya untuk kemudian menatap samping wajah bagus milik Andre yang sedang menghadapkan wajahnya lurus ke arah Pak Simangunsong. Calvin tak percaya kalau Andre ingat padanya. Seingat Calvin, meskipun di kelas 1 dulu ia pernah sekelas dengan Andre, namun tak pernah sekalipun mereka pernah berbicara. Tak ada kegiatan yang pernah mereka lakukan bersama-sama. Andre sibuk dengan aktifitas ekstra kurikulernya, sedangkan Calvin sibuk dengan olimpiade fisikanya.

Calvin tak pernah punya keberanian untuk mendekat apalagi bergaul dengan cowok tampan yang paling populer di sekolah itu. Sejak kelas 1 dulu hingga saat kelulusan hampir tiba, yang berani dilakukan Calvin selama ini hanya mencuri-curi pandang atau menatap Andre dari jauh. Memuaskan tatapannya pada cowok tampan yang entah kenapa sangat dikaguminya itu.

Ketika Pak Simangunsong memanggilnya tadi pagi, dan menyampaikan padanya bahwa ia dimintakan tolong untuk membantu Andre dalam pelajaran fisika, Calvin benar-benar tak dapat mempercayai hal itu. Barulah ketika Andre duduk disampingnya saat ini, Calvin dapat yakin bahwa akhirnya ia dapat berdekatan dengan cowok populer ini.

"Kalau begitu baguslah. Karena kalian sudah saling mengenal, selain itu rumah kalian berdekatan, jadi lebih mudah buat kalian untuk memulai belajar bersama. Silakan kalian tentukan sendiri waktu dan tempat untuk belajar bersama," kata-kata Pak Simangunsong membuyarkan lamunan Calvin tentang Andre.

Pembicaraan usai. Andre dan Calvin berjalan beriringan ke luar dari ruangan guru. Terdiam, kaku karena belum saling mengenal.

Calvin tak bisa tidur malamnya. Padahal jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Diatas ranjangnya yang empuk, ia menatap lurus ke langit-langit kamarnya. Matanya tak mengantuk. Ia masih teringat kecanggungan yang dirasakannya sore tadi saat Andre mengantarnya pulang dengan sepeda motor Tiger 2000 nya.

"Peluk pinggang gue erat-erat Vin. Supaya elo enggak jatuh. Soalnya gue kalau bawa motor enggak bisa enggak kenceng," kata Andre padanya.

Sepanjang jalan menuju tempat tinggalnya di sebuah kompleks perumahan kawasan Bintaro, jantung Calvin bergemuruh kencang. Ia benar-benar grogi duduk sedemikian rapat dengan cowok ganteng bertubuh harum menyegarkan itu. Punggung lebar Andre yang empuk berotot bersentuhan rapat dengan dadanya yang cukup bidang. Telapak tangannya mencengkeram kuat perut Andre yang rata, keras, dan berotot. Sedangkan kontolnya beradu rapat dengan buah pantat Andre yang bulat empuk. Sepanjang jalan Calvin kuatir Andre merasakan perbesaran ukuran kontolnya yang menempel erat di buah pantat itu.

Sesampainya di rumah Calvin, tak ada satu kalimatpun dari Andre yang menyinggung soal perbesaran kontol Calvin.

"Kalau bisa belajar bersamanya kita mulai besok, sepulang bimbingan ya Vin," kata Andre pada Calvin.

Setelah Calvin menyetujui, Andre segera melajukan sepeda motornya menuju rumahnya di Pondok Indah. Calvin lega, sepertinya Andre tidak menyadari kekurangajaran kontolnya yang mengeras seenaknya tadi.

Masih diatas tempat tidur, Calvin teringat pada apa yang pernah dikatakan Desi, sepupunya yang pernah sangat dekat dengannya. Desi adalah anak dari kakak Mamanya Calvin. Tak ada saudara Mamanya Calvin selain Tante Rini, Mamanya Desi. Meskipun Desi lebih tua dua tahun darinya, namun sejak kecil mereka sangat akrab. Mungkin karena mereka berdua sama-sama anak tunggal. Jadi perasaan keduanya seperti kakak adik kandung sangat dekat. Tak ada rahasia yang tak diceritakan Calvin pada Desi. Demikian pula Desi padanya. Apabila bertemu keduanya saling curhat tentang diri masing-masing. Desi paling memahami tentang Calvin, demikian juga sebaliknya.

"Jangan marah kalau gue bilang elo gay, Vin," kata Desi satu kali padanya, sebelum ia berangkat melanjutkan kuliah ke Fakultas Ekonomi UGM tahun lalu.

Pernyataan itu adalah jawaban Desi padanya atas akumulasi segala pernyataan Calvin tentang sosok laki-laki yang kerap kali diutarakannya pada sepupunya itu.

"Maksud elo?" tanya Calvin deg-degan.

Tak menyangka Desi akan berkata seperti itu padanya. Dirasakannya wajahnya panas. Ia tak tahu apakah ia marah mendengar komentar Desi.

"Sebenarnya sudah lama gue ingin ngungkapin hal ini. Tapi gue ragu. Gue kuatir elo marah ke gue," sambung Desi.
"Gue suka cewek kok Des. Buktinya gue juga ceritain ke elo kan, bagaimana perasaan gue pada Silvia, teman cewek gue di sekolah," kata Calvin membela diri.
"Maaf kalau gue salah. Tapi perasaan gue menangkap hal yang laen saat elo berbicara soal cowok, siapa namanya, Andre ya? Ya Andre. Elo sangat bersemangat bila bercerita tentang dia. Memang elo bercerita juga tentang Silvia, tapi cerita elo tentang dia, tidak seantusias cerita elo soal Andre. Malah, menurut gue, porsi cerita Andre, lebih banyak dibandingin Silvia. Terlalu banyak hal-hal yang mempesona Andre yang elo rekam di benak elo, dibandingin Silvia. Maaf Vin..," kata Desi lirih.

Calvin ingat, saat itu ia hanya terdiam seribu bahasa. Saat Desi memeluknya dengan sayang, dan meminta maaf dengan tulus apabila kata-katanya telah menyinggung perasaan, Calvin juga tetap diam. Mulutnya tak hendak membenarkan Desi, namun di hatinya berperang, ragu, apakah ia memang harus membenarkan atau menolak pernyataan Desi. Apakah perasaan aneh yang selalu muncul di dirinya saat memandang atau mengingat sosok Andre merupakan pembenaran dari apa yang dinyatakan Desi.

Sejak saat itu hubungannya dengan Desi mulai renggang. Selalu ada alasan diciptakannya buat menghindari Desi. Meskipun Calvin sangat menyadari Desi pasti sangat sedih atas penghindarannya itu.

Calvin mencoba menghapus sosok Andre dalam benaknya. Ia mengalihkan pikirannya dengan menceburkan diri pada aktivitas-aktivitas laki-laki disamping kegiatan sekolahnya. Namun ia tak mau melakukannya di sekolah, karena pasti ia akan bertemu dengan Andre bila melakukannya disana. Calvin kemudian memulai kembali kegiatan bela diri Tae Kwon Do yang dulu pernah ditinggalkannya saat kelas 3 SLTP. Selain itu juga ia bergabung dengan Sekolah Sepak Bola Remaja. Namun ternyata tetap saja ia tak bisa menghapuskan sosok Andre dari benaknya.

Kejadian yang dialaminya sore tadi diatas sepeda motor Andre, membuat Calvin tiba-tiba rindu untuk curhat pada Desi seperti dulu. Bolak-balik ia memandangi pesawat telpon yang ada di kamarnya. Namun perasaan bersalahnya karena telah menghindari Desi, membuatnya tak punya keberanian untuk mengangkat gagang telpon.

Capek dengan lamunannya, Calvin akhirnya tertidur. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan hampir pukul empat dini hari.

Saat istirahat sekolah, Andre mendatangi Calvin ke kelasnya. Calvin yang sedang asyik berkutat dengan buku fisikanya kaget ketika Andre menepuk bahunya,

"Jadi kan belajarnya pulang bimbingan nanti Vin?" tanya Andre.

Cowok tampan itu langsung duduk di kursi depan meja Calvin. Lengannya yang kokoh bersandar pada sandaran kursi. Calvin menganggukkan kepalanya, mengiyakan.

"Pak Simangunsong emang enggak salah milihin guru privat buat gue deh," kata Andre lagi sambil cengar-cengir pada Calvin.
"Ndre, jangan terlalu berharap banyak dari gue dong. Banyak hal yang gue juga enggak ngerti. Kita harus sama-sama belajar. kalau enggak, ya percuma aja," jawab Calvin.
"Siap Pak Guru," jawab Andre sambil memberi hormat layaknya prajurit pada komandannya. Tetap dengan cengiran yang membuat wajahnya semakin enak dilihat.

Sorenya sepulang bimbingan sekolah dengan berboncengan diatas sepeda motor Andre dan Calvin meluncur di jalan raya kota Jakarta yang ramai menuju rumah Calvin. Harum tubuh maskulin Andre yang menyebar dari balik jaket kulit hitamnya sungguh menggoda Calvin. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, jantung Calvin berdebar keras. Ia sangat terangsang pada cowok ganteng yang memboncengnya ini. kontolnya membesar lagi seperti kemaren, menempel erat di belahan bokong Andre.

Setiba di rumahnya, Calvin tak mampu memandang wajah Andre saat menyuruhnya masuk. Ia takut
Andre menyadari perbesaran ukuran kontolnya sepanjang perjalanan mereka. Andre sendiri kelihatan sangat cuek. Sepertinya ia tak menyadari apa yang terjadi dengan Calvin sepanjang perjalanan tadi. Seperti juga kemaren sore.

Rumah Calvin terlihat sepi. Saat itu jam menunjukkan pukul 18.30 wib. Pada Andre, Calvin mengatakan bahwa kedua orang tuanya belum pulang dan biasanya baru kembali saat ia sudah tertidur lelap nanti.

"Enakan kita makan dulu ya Ndre, supaya belajarnya enggak terganggu," kata Calvin.
"Boleh aja. Tapi gue mau numpang mandi dulu nih Vin. Badan gue rasanya lengket nih," jawab Andre.
"Gitu ya. Gue juga rasanya memang perlu mandi nih Ndre. kalau gitu kita ke kamar aja yuk. Biar elo mandi disana aja," jawab Calvin.

Calvin membawa Andre menuju kamarnya di lantai dua. Kamar Andre luas. Peralatan lengkap tersedia didalamnya. Televisi 29 inchi, plus DVD player dan Play Station. Juga seperangkat komputer model terbaru. Disudut kamar terdapat kamar mandi besar.

"Itu kamar mandinya. Ini handuk bersihnya. Elo mandi duluan, setelah itu gua. Gua mau ngomong ke Mbak Sum, supaya nyiapin makan malam kita," kata Calvin. Ia menyerahkan handuk bersih pada Andre.
"Oke," jawab Andre. Calvin segera meninggalkan Andre. Ia menuju dapur dan kemudian menyuruh Mbak Sum, pembantunya, mempersiapkan makan malam untuknya dan Andre. Kemudian ia segera kembali ke kamarnya di lantai 2.

"Deg!" jantung Calvin berdebar keras saat ia membuka pintu kamarnya. Ia mendengar suara air yang memancar dari shower yang terletak di dalam kamar mandinya. Suara shower hanya bisa terdengar keras memenuhi kamar bila pintu kamar mandi tak ditutup. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam kamar. Jantungnya semakin berdebar kencang. Pintu kamar mandi terkuak lebar. Calvin terpaku, matanya menatap lurus tak berkedip ke dalam kamar mandi. Didalam sana Andre yang telanjang sedang asyik melakukan gerakan tangan mengocok batang kontolnya sendiri yang sudah mengacung tegak.

Tiba-tiba Andre menoleh ke arahnya. Calvin kaget. Ia gelagapan, dan langsung mengalihkan pandangannya dan berpura-pura menghidupkan televisi. Duduk bersila diatas karpet, matanya menatap layar televisi tapi ia tak memperhatikan siarannya. Jantungnya berdegup keras.

Degup jantung Calvin semakin bertambah keras saat kemudian ia merasakan jemari tangan yang basah membelai lehernya, kemudian melepaskan kaca mata minusnya. Ia memejamkan matanya kuat-kuat. Ia merasakan telinganya seperti digelitik oleh sebuah daging kenyal hangat yang basah disertai dengusan nafas hangat membelai pipinya.

"Gue tahu, ini yang selalu elo impikan Calvin," parau suara Andre membisik di telinganya.

Selanjutnya telinga Calvin dengan sukses bersarang dalam kuluman bibir dan gelitikan lidah Andre. Calvin membiarkan saja apa yang dilakukan Andre padanya. Ia tak ingin melarang Andre. Jantungnya terus berdegup semakin kencang. Jemari tangan Andre kini melepaskan kemeja sekolah Calvin. Tubuh Calvin bagian atas tak menggenakan apa-apa lagi. Dadanya yang cukup bidang kini telanjang.

"Buka mata elo Vin," bisik Andre.

Perlahan-lahan Calvin membuka matanya. Dan betapa kagetnya ia, saat kedua matanya telah terbuka ia menemukan sebuah kontol besar mengacung tegak dihiasi rimbunan jembut lebat berada tepat di depan wajahnya. Sesaat kemudian kontol besar itu sudah menggesek-gesek mukanya. Dirasakannya geli pada kulit wajahnya akibat gesekan jembut lebat milik Andre. Calvin mengendus-endus batang kontol itu. Wangi sabun, harum menyegarkan.

Tak berlama-lama kontol besar kemerahan itu sudah bersarang dalam mulut Calvin. Calvin menyelomoti batang itu dengan penuh semangat. Meski tak punya pengalamannya sebelumnya, tapi Calvin mengetahui apa yang harus dilakukannya dengan batang kontol besar yang sangat dirindukannya selama ini. Andre menggoyangkan pantatnya maju mudnur dengan gerakan perlahan, penuh kelembutan, mengeluar masukkan batang besar miliknya itu di dalam mulut Calvin.

"Elo menyukainya kan Calvin? Elo suka kontol gue didalam mulut elo kan?" tanya Andre diantara genjotannya.
"Suka banget.. Hmmpp.. Sreuppss.. Mmpp..," jawab Calvin sembari melanjutkan kulumannya pada perkakas Andre dengan penuh semangat. Ludahnya berceceran membasahi batang itu, membuatnya mengkilap indah.

Keduanya kini berbaring di lantai, berlawanan arah. Mulut mereka asyik mengulum batang kontol milik temannya. Calvin memuluti batang Andre. Sedangkan Andre memuluti batang Calvin yang nongol dari resleting celana sekolahnya. Dari mulut keduanya terdengar suara kecapan-kecapan basah yang semakin membangkitkan birahi mereka.

Setelah puas memuluti batang kontol Calvin, Andre melanjutkan dengan melakukan rimming pada lobang pantat perjaka milik temannya itu. Lidahnya menjilati celah sempit penuh bulu itu. Sesekali lidahnya menusuk-nusuk disana, membuat Calvin mengerang-erang keenakan. Sembari memainkan lidah, jari-jari Andre menyibak celah sempit itu. Menguakkannya selebar mungkin, lalu menyusupkan jarinya ke lorong sempit kemerahan milik Calvin. Calvin mengerang keras. Ia merasakan lobang pantatnya terasa hangat dan penuh. Berulang-ulang Andre menyusupkan jarinya kesana. Ia meludahi lobang itu agar lebih licin, sehingga sodokan jarinya tidak terlalu seret.

Andre merasa celah sempit Calvin sudah dapat beradaptasi dengan baik. Buktinya tiga jarinya sudah dapat menyusup dan merojok disana. Kalaupun Calvin mengerang-erang oleh rojokannya itu, menurut Andre itu merupakan hal yang wajar, sebab Calvin baru pertama kali merasakannya. Andre kini ingin melanjutkan aksinya dengan penetrasi di lobang pantat Calvin.

Andre mengarahkan Calvin agar terlentang di atas karpet. Ia meminta temannya itu untuk mengangkang, membuka pahanya yang kokoh itu selebar-lebarnya. Andre menaiki tubuh Calvin. Meletakkan selangkangannya tepat di depan buah pantat Calvin.

"Elo tahan sakitnya ya Vin. Cuman sebentar doang kok," katanya, ia tersenyum manis pada Calvin. Temannya itu membalas senyum Andre sambil menganggukkan kepalanya.

Perlahan-lahan Andre mulai menancapkan batang kontolnya yang besar itu ke celah sempit milik Calvin. Tak ada jerit kesakitan dari mulut Calvin. Sekuat tenaga ditahannya rasa sakit pada lobang pantatnya saat senti demi senti batang besar milik Andre memasuki lorong sempitnya. Matanya dipejamkan, tetesan keringat didahinya merupakan pertanda betapa betapa Calvin sangat kesakitan oleh penetrasi itu.

Andre terus berjuang menjebol benteng keperjakaan Calvin. Matanya merem melek, tangannya mencengkeram erat pinggang ramping Calvin. Pantatnya terus mendorong ke depan menyusupkan batang kontolnya menyusuri lorong sempit milik Calvin. Andre merasakan kontolnya seperti diremas-remas dengan kuat oleh dinding lorong lobang pantat Calvin. Dari mulutnya terdengar deru nafas yang keras.

"Hohh.. Hohh.. Hohh..,"

Akhirnya, perjuangan Andre membenamkan seluruh batang kontolnya ke dalam lobang pantat Calvin berhasil juga. Ujung kepala kontolnya terasa mentok menyentuh daging empuk yang terasa hangat dan basah, berdenyut-denyut membuat kepala kontolnya terasa geli-geli nikmat.

"Hohh..," Andre mendengus keras.
"Sudah masuk semua Ndrehh?" tanya Calvin.
"Sudah Vin. Enak banget men, sempit banget. Lobang pantat elo benar-benar sip. Elo juga benar-benar hebat. Elo sanggup menahan sakitnya," Andre memuji temannya itu. Calvin tersenyum bangga dipuji seperti itu. Selanjutnya mereka berciuman dengan penuh nafsu.
"Sekarang elo tahan lagi ya Vin, gue akan menggenjot lobang pantat elo," kata Andre setelah bibir mereka tuntas saling melumat.
"Oke Ndre," jawab Calvin parau.

Andre meremas buah pantat Calvin yang berkeringat. Kemudian ia menarik buah pantatnya ke belakang, sehingga batang kontolnya tertarik keluar dari lobang pantat Calvin. Belum sampai separuhnya keluar, Andre mendorong pantatnya maju secara perlahan. kontolnya pun kembali terbenam ke lobang pantat Calvin. Ia merasakan betapa seretnya batang kontolnya bergerak ke luar masuk lobang pantat temannya itu. Calvin mengerang tertahan saat batang kontol Andre dirasakan bergerak keluar masuk lobang pantatnya. Andre terus bergerak berulang-ulang. Lobang kencing pada kepala kontolnya terasa mengeluarkan precum yang mengurangi rasa seret gerakan maju mundurnya.

"Heh.. Heh.. Hohh.. Hohh.. Enakhh.. Bangethh.. Hehh.. Hohh..," racau Andre.

Gerakan pantatnya semakin cepat. Tangan kirinya sibuk meremas-remas tubuh atletis temannya yang licin karena basah oleh keringat, terutama pada buah pantat Calvin yang montok. Sementara tangan kanannya sibuk mengocok batang kontol Calvin yang juga tak kalah besarnya dari milik Andre.

Dari cermin besar yang ada di kamarnya, Calvin bisa melihat pantulan bayangan persetubuhan mereka. Pemandangan yang sangat indah. Tubuh yang bertindihan sama-sama bergoyang seirama. Simbahan keringat yang berkilauan oleh cahaya lampu kamar menunjukkan dengan jelas meregangnya otot-otot mereka yang mulai terbentuk itu. Calvin tersenyum bahagia melihat Andre yang mengerang-erang dengan mata merem melek sedang asing menggenjotkan pantatnya menyodomi dirinya yang menungging pasrah dan melakukan gerakan pantat membalas.

Calvin tak pernah membayangkan bahwa dirinya akan disenggamai oleh cowok sejantan Andre seperti hari ini. Tiba-tiba ia tersadar, mengapa cowok sejantan Andre bisa menyenggamainya dengan penuh nafsu seperti ini. Apakah Andre seorang gay? Lalu bagaimana dengan Cindy, kekasihnya?

"Mengapa elo lakukan ini pada gue Ndrehh?" tiba-tiba terlontar saja pertanyaan itu dari bibirnya.

Ia sebenarnya tak mengharapkan Andre akan menjawab pertanyaannya itu. Ia khuatir Andre akan menghentikan genjotannya oleh pertanyaannya yang tak pantas pada momen indah seperti ini. Namun tanpa diduganya, diantara genjotannya yang tak berhenti Andre berbisik di telinganya,

"Karena gue tahu elo menginginkannya Calvin manisshh..,"
"Maksudhh elohhkhh," Calvin kembali bertanya.
"Jangan purah-purah.. Ssshh.., Vin.., Oh. Guehh, tahuuhh, kontol elo selalu ngaceng setiap gue boncenghh.. Ohh. Danhh eohshh.. Eloh selalu, salah tingkahkhh.. Setiap ngomong ke guehhshh. Itu artinya elohh.. Minta gue entotthh.. Ahh,"

Calvin tersenyum malu, ternyata Andre menyadari sikapnya selama ini.

"Untunglah ternyatahh elo gay Ndre.. kalau enggakhh.. Aouhh.. Gue maluhh bangethh..,"
"Ohh.. Ahh.. Siapa bilanghh.. Gue gayhh.. Ouhh..,"
"Buktinya elohh entotihh guehh nihh.. Ouhh,"

Tiba-tiba Andre menghentikan genjotannya, ia mencabut kontolnya dari Calvin.

"Kok diberentiin Ndrehh?" tanya Calvin bingung.

Ia menyesal mengeluarkan kata-kata itu sehingga akhirnya Andre menghentikan perlakuannya. Andre duduk di lantai menatap Calvin tajam. Calvin salah tingkah dan merasa sangat menyesal. Tiba-tiba Andre tersenyum. Calvin menjadi bingung. Ia menatap mata Andre dengan takut-takut. Ada apa ini?

"Calvin, lo jangan salah sangka ya. Bukan berarti kalau sekarang gue ngentot elo itu artinya gue gay kawan," kata Andre sambil mengelus dagu Calvin.
"Maksud elo?"

Andre tersenyum lagi. Diambilnya celana dalam putih miliknya dari lantai, lalu ia mengusap keringat di dahi Calvin dengan celana dalam itu.

"Gue boleh cerita ke elo?"
"Terserah elo, tapi entar elo lanjutin lagi kan?" jawab Calvin malu-malu.
Andre tertawa, diciumnya bibir Calvin lembut.
"Pasti sayang. Lobang pantat elo bikin gue gila tahu," Calvin tersenyum senang mendengarnya.

Kemudian Andre mulai bercerita pada Calvin, tentang anak-anak anggota Tim Basket sekolah yang sering melakukan kegiatan sex sejenis.

"Meski bukan homosex, gue dan teman-teman tim basket doyan ngentotin lobang pantat cowok Vin. Apalagi kalau cowoknya masih perjaka dan ganteng kayak elo," kata Andre cengar-cengir.
"Biasanya abis latihan basket, anak-anak yang nafsu berat langsung aja ngentot di kamar mandi sekolahan. Mereka cuek aja, meskipun di sekitarnya yang lagi mandi ngeliatin sambil ketawa-ketawa. Soalnya sudah biasa,"
"Masak sih? Bebas banget ya. "
"Kan cowok semua. Ngapain malu. Semuanya juga sama-sama punya kontolkan. Yang paling seru kalau kita ngentot rame-rame abis latihan di tengah lapangan basket Vin. Masih keringetan semua tuh. Wuihh, asyik banget Vin.., hehehe,"
"Semuanya ngentot?"

Calvin terangsang banget membayangkan anak-anak tim basket yang ganteng-ganteng dan atletis itu, rame-rame ngentot dalam keadaan tubuh penuh keringat di lapangan basket. Ia jadi enggak sabaran ingin gabung juga.

"Yup,"
"Termasuk si Randy?" tanya Calvin dengan mata mengernyit tak percaya.

Selama ini ia mengenal Randy sebagai seorang anak yang pendiam di sekolah. Kalau ada kegiatan ia paling rajin jadi panitia.

"Hehehe, pastilah. Awalnya sih dia enggak mau, sama kayak gue dan anak-anak yang lain. Tapi sekarang dia paling doyan tuh,"
"Kok bisa begitu sih Ndre?"
"Awalnya dari kegiatan penerimaan anggota baru Vin. Setiap awal semester kan ada seleksi bagi murid-murid yang ingin gabung ke tim basket. Setelah lulus seleksi kemampuan basket yang sangat ketat, calon anggota baru wajib mengikuti inaugurasi. Acaranya kita buat tengah malam di sekolah. Nah disanalah anggota baru diperkenalkan dengan sex sejenis Vin. Kebiasaan seperti ini sudah sejak kapan tahu Vin. Gue juga cuman nerusin doang,"
"Enggak pernah ketahuan?"
"Kalau Tim Basket bikin acara di sekolah, kan urusannya gampang. Guru-guru sudah percaya banget sama kita Vin. Jadi enggak pernah diawasin,"

"Pak Hendro yang jaga sekolahan gimana?"
"Setiap acara dia kita kasih duit. Jadinya dia enggak peduli kita mau ngerjain apa di sekolah. Dia percaya anak-anak Tim Basket bisa jagain sekolah. Lagian kalau kita ada kegiatan di sekolah, dia lebih punya kesempatan untuk tidur pulas di rumahnya di samping sekolahan,"
"Oo, gitu ya. Terus?"
"Di acara inaugurasi itu, setiap anggota baru dilarang untuk berpakaian. Semuanya wajib telanjang bulat selama acara. Mereka dikumpulin di dalam ruangan kelas, diputerin film bokep sambil disuruh minum minuman keras sampai mabok. Elo bayangin aja, cowok horny dalam keadaan mabok, disuruh apa aja kan mau, hehehe. Nah pas begitulah mereka dikerjain sampai senior puas,"

"Diapain aja mereka?"
"Terserah seniornya. Ada yang disuruh ngulum-ngulum batang kontol. Ada yang dientotin. Biasanya kalau kontol mereka gede, para senior paling suka. Enak buat dikulum dan rasanya enak banget kalau kita bisa merasakan kontol gedenya nyodok-nyodok lobang pantat kita. Lo tahu Wisnu kan?"
"Anak Bali yang ganteng itu?"
"Yoi,"
"Taulah. Dia kelas dua kan sekarang, kenapa dia?"
"Tuh anak, paling disukai ama kita-kita. kontolnya gede banget Vin, kalau gua enggak salah panjangnya sampai dua puluh senti. Bentuknya gemuk dan urat-uratnya jelas banget,"
"Gila. Elo pernah ngerasain punya dia juga? enggak sakit?"
"Hehehe, sudah dong. Semua anak basket sudah pernah ngerasain punya dia. Sakit sih awalnya, tapi kalau sudah dikocok di dalem lobang pantat, enak banget Vin. Gua nagih sampai sekarang. "
"Dasar lo. Ngomong-ngomong, waktu elo jadi anggota baru dulu, yang ngerjain elo pertama kali siapa?"

"Si Doni. tahu kan?"
"Doni? Yang mantan Ketua OSIS sebelum elo itu?"
"Yoi. Gue kan di kader ama dia. Doni itu, suka banget manggil gue ke kelas pas sedang belajar. Paling enggak seminggu bisa tiga kali. Alasannya ke guru mau bicarain soal kegiatan sekolah yang diperintahkan Kepsek. Padahal begitu nyampe di ruangan OSIS enggak ada yang dia kerjain selain ngembat lobang pantat gue aja. Kalaupun emang ada rencana kegiatan sekolah, ya dia bicarainnya sambil genjot pantat gue,"

"Dasar. enggak nyangka deh gue. Padahal kan dia pacarnya banyak,"
"Iyalah. Dia doyan banget sama vagina. Semua anak basket juga doyan vagina. Gue aja doyan banget ama vagina Cindy. Tapi gue dan teman-teman gue yang lain juga doyan ama yang namanya lobang pantat cowok ganteng kayak elo," kata Andre sambil nyengir. Calvin mesem.

"Abisnya lobang pantat tuh rasanya lebih seret dari vagina. Lagian kalau ngembat lobang pantat enggak ada resiko hamil kan. Tapi kalau ngembat vagina harus hati-hati, salah-salah gue disuruh nikah masih sekolah gini. Ngentot ama cewek juga enggak bisa disembarang tempat dan waktu kan. Lagian jarang-jarang cewek yang mau diembat lobang pantatnya. Tapi kalau ngentot ama cowok bisa kapan aja saat nafsu kita naek. Siapa yang curiga kalau dua cowok masuk kamar mandi sekolahan bareng-bareng. Paling dikirain mau kencing doang, padahal mau kencing enak, hehehe," Calvin nyengir dengan komentar Andre.

"Lo enggak merasa risih ngentot ama cowok Ndre?"
"Awalnya sih iya. Tapi kalau sudah dirangsang yang namanya kontol kan pasti ngaceng. kalau kontol sudah ngaceng ya mau gimana lagi. Lobang apa aja bakalan kena embat,"
"Lo enggak takut apa, kalau keseringan dientot menyebabkan lobang pantat elo dower. Gimana kalau cewek lo tahu?"
"Cuek aja Vin. Cewek enggak doyan ama pantat. Lobang pantat kan buat konsumsi cowok. kalau cewek dia doyannya sama yang ini," jawab Andre sambil mengacung-ngacungkan kontolnya ke muka Calvin.
"Hehehe, benar juga Ndre,"

"Siniin lobang pantat lo. Gua ingin ngelanjutin, yang tadikan nanggung banget," kata Andre.

Ia menarik pinggang Calvin dan mendudukkannya berhadapan diatas pangkuannya. Mereka tertawa mesra, saling mengelus tubuh masing-masing, dilanjutkan dengan saling melumat bibir dengan penuh nafsu. Pelan-pelan Calvin menduduki batang kontol Andre yang berdiri tegak sekeras kayu, memasukkannya ke dalam lobang pantatnya. Setelah batang kontol itu masuk seluruhnya, Calvin mulai menggerakkan pantatnya naik turun. Andre membalas dengan menggoyangkan pantatnya juga. Mereka bergoyang seirama dengan cepat dan keras. Menimbulkan bunyi tepukan yang memenuhi ruangan. Mereka mengerang, mendesah, menjerit.

"Ouhh.. Ouhh.. Lo makin pinter Vin,"
"Ndre.. Ohh.. Enak.. Bangethh.. Ndrehh.. Ohh,"
"Vinhh.. Ohh, .. Jangan bilang-bilang.. Ihh.. Kehh.. Cindy ya Vinhh.. Shh.."
"Bilangin.. Ohh.. Apahh.. Ndrehh?"
"Bilangin.. Ahh.. Ahh.. kalauhh.. Guehh.. Entot.. Elohh..,"
"Gue bilanginhh.. Ahh.. Shh.. Shh..,"
"Janganhh.. Donghh..,"
"Enakahnann.. Manahh.. Ama.. vagina.. Cindyhh..?"
"Enakan vagina cindyhh.. Ouhh..,"
"Gue bilangin ke diahh.. kalauhh.. Gituhh.. Ouh..,"
"Sorryhh.. Salah.. Aouhh.. Enakan pantat elohh.. Kokgkhh.. Ohh.. Ohohh..,"
"Gombal.., ohh.. Yahh.. Disituhh.. Ndrehh, .. Ohh..,"
"Suer.. Ohh.. Ohh.. Ohh..,"

Rencana belajar bersama terlupakan sudah oleh mereka. Andre akhirnya menginap di rumah Calvin malam itu. Berkali-kali mereka mengulang persenggamaan memuaskan birahi yang menggelora hingga pagi menjelang. Lidah mereka sudah sangat mengenal lekuk tubuh masing-masing. Bergantian mereka saling menindih dan menyelipkan batang kontol di lobang pantat temannya. Saat orgasme datang, sperma remaja mereka berceceran membasahi karpet dan sprei tempat tidur, mengalir turun melalui paha kokoh mereka dari lobang pantat yang mendenyut-denyut.

Mereka baru tersadar bahwa persetubuhan itu harus dituntaskan ketika tiba-tiba telepon genggam Andre berdering di pagi hari. Saat itu Andre sedang menungging pasrah dengan kedua tangan memegang tepi ranjang, sementara diatasnya Calvin sedang merem melek keenakan, pantatnya bergoyang-goyang mengeluar masukkan batang kontolnya di lobang pantat Andre.

"Halohh," kata Andre
"Ndre, lo enggak jemput gue pagi ini? Ini sudah hampir jam tujuh tahu,"
"Cindy yah?!! Sorry Cin, shh.. Gue baru bangun nih. Soalnyaahh gue kemaleman abis belajar bareng Calvinshh. Elo berangkat sendiri aja ya. Soryy banget sayang.. Shh,"
"Lain kali kasih tahu dong, jadinya gue kan telat juga nih. Elo lagi ngapain sih? Kayak kepedesan gitu?!!,"
"Iyah.. Shh.., pedesshh. Lagi makan rujak sayanghhshh..,"
"Makan rujak kok pagi-pagi sayang? Nanti mules perutnya,"
"Iyahh.. Ohh.. Perut guehh.. Rasanya mulas banget.. Nihh.. Shh..,"

Calvin hanya tersenyum-senyum mendengar pembicaraan Andre melalui telepon. Andre tak berbohong mengatakan bahwa perutnya sedang mules saat itu. Genjotan Calvinlah yang membuat perut Andre terasa mules.

Andre masih berbicara dengan Cindy melalui ponsel. Sementara Calvin tak menghentikan genjotannya. Ia malah semakin mempercepatnya, karena ia ingin segera mencapai orgasmenya. Calvin tak ingin telat tiba di sekolah. Sambil memegang ponsel di tangan kanan, Andre mengocok batang kontol dengan gerakan yang cepat menggunakan tangan kirinya. Tak sampai semenit akhirnya kedua cowok itu mengerang keras. Batang kontol mereka berdenyut-denyut menyemprotkan sperma.

"Ohohohhrrhggh..," erang Andre dan Calvin berbarengan.
"Kenapa Ndre? Kenapa?" suara Cindy diseberang sana.
"Sudah keluar sayanghh.. Ohh.. sudah keluar..," desah Andre.
"Sudah keluar? Syukurlah. Lebih longgar kan rasanya?"
"Iya sayanghh.. Ohh..,"

Cindy mengira Andre sedang buang air akibat mulesnya. Ia tak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada Andre saat itu. Ia tak mengetahui bahwa saat itu kekasihnya sedang menikmati orgasmenya diantara semburan sperma Calvin didalam lobang pantatnya.

"Kalau gitu oke deh. Sampai nanti ya sayang," Cindy menutup teleponnya di seberang, klick.

Andre langsung melemparkan ponsel ke atas ranjang. Selanjutnya tubuhnya yang berkeringat ambruk diikuti oleh tubuh Calvin yang juga basah kuyup menindihnya. Keduanya terdiam untuk beberapa saat, hanya deru nafas mereka saja yang terdengar memburu memenuhi ruangan.

TAMAT




Home
Cerita-XXX
Cerita Stim
Cerita Erotis
Sumber Cerita
Thai Stories


© 2009 - 2014 CeritaKita-X
Cerita mesum dan Artikel seks